Namaku Zulfa Ainiyah aku lahir di Bogor pada hari Rabu, 3 April 1996. Aku terlahir dari rahim seorang perempuan yang bernama Siti Masitoh, beliau adalah ibu kandungku dan dari seorang laki-laki yang bernama Matroji ya beliau adalah ayahku dan mereka berdua adalah orang yang paling berharga dalam hidupku yaitu orang tuaku.
Ibuku adalah seorang guru disalah satu sekolah taman bermain kanak-kanak yaitu TK Islam Al-Kautsar yang terletak di daerah Cinere dan Ayahku adalah seorang wiraswasta.
Aku adalah seorang kakak dari 2 adik laki-lakiku. Adikku yang pertama bernama Ikhwan Maftuh Ahnan dan yang Kedua Muhammad Fauzil Adhim, mereka berdua kini sedang menimba ilmu di Pondok Tahfidz Al-Muqodasah Ponorogo.
Aku adalah seorang Alumni dari Sekolah Dasar Negeri 01
Cinere, selama 6 tahun aku menuntut ilmu disana banyak sekali
pengalaman, pelajaran, teman hingga sahabat yang aku dapatkan. ketika
masih duduk dibangku SD, dulu aku terkenal sebagai anak perempuan yang
berani (kata mereka) karena disaat teman-temanku takut pada anak lelaki
justru aku malah melawannya, dan aku sadari karena hal itulah mengapa
mereka para teman-temanku yang laki-laki gemar sekali menjailiku.
Selesai
dari bangku Sekolah Dasar aku mempunyai keinginan untuk meneruskan
pendidikanku di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri yang ada di DKI
Jakarta, namun apa dayaku, ibuku menginginkanku untuk melanjutkan menimba
ilmu Di Pondok Modern Darussalam Gontor, dan dari Pondok inilah aku
belajar bagaimana arti kehidupan yang sebenarnya.
Aku
bersyukur, ibuku menyekolahkanku di salah satu Pondok Pesantren
terbesar di Indonesia yaitu Pondok Modern Darussalam Gontor.
Aku
belajar di pondok ini selama 6 tahun dan ditambah pengabdian 1 tahun
jadi total waktu belajarku di pondok tercinta adalah 7 tahun.
7 tahun bukanlah waktu yang sebentar, banyak pengalaman berharga yang aku dapatkan.
Di
awal masuk pondok, aku benar-benar tidak tau apa-apa, tidak mempunya
teman, dan rasanya ingin sekali aku kembali ke Depok. Tapi aku sadar
bahwa jarak antara Depok-Ngawi tidaklah dekat, dan darisitu aku belajar
bertahan. Lambat laun aku mempunyai banyak teman dan aku pun mulai
merasa nyaman berada di pondok ini.
Di tahun
selanjutnya aku dipindah di pondok cabang Gontor yang ada di Kediri
yaitu Pondok Modern Darussalam Gontor Putri 5. Awalnya aku sedih dan
bertanya-tanya mengapa aku ditempatkan di GP 5, namun setelah sampai di
lokasi aku benar-benar jatuh cinta pada tempat ini, tempatnya sejuk,
asri, banyak sawah, pemandangan gunung yang indah, airnya dingin dan
jernih, keadaan ini sungguh jauh dari keadaan pondok sebelumnya di
Ngawi.
Pengalaman paling berkesan selama aku
berada di GP 5 ini adalah ketika aku duduk di bangku kelas 3 (setara
dengan kelas 9 SMP) dimana pada saat itu aku sering sekali melanggar
peraturan yang ada di pondok, dari telat berangkat ke masjid, tidak
membawa tas sendal, berbicara bahasa indonesia dan yang terparah
menyalah gunakan tempat penerimaan telfon. Hukuman terberat yang aku
dapatkan pada saat aku kelas 3 adalah ketika kerudung putihku harus
diganti dengan kerudung merah karena pelanggaranku. Rasa malu, sedih,
kesal bercampur aduk jadi satu, ingin pulang rasanya tetapi aku sadar
bahwa aku tidak selemah itu. Dan hukuman tidak berhenti hanya pada
pergantian kerudung saja, hukuman lainnya menunggu seperti di jemur di
siang hari dibawah terik matahari yang disaksikan oleh ratusan santri
yang berlalu lalang setelah pulang dari sholat zuhur di masjid. Dengan
papan bertuliskan "i was abused the cottage facilities"
Dari pengalaman ini aku belajar bahwa peraturan itu ada untuk ditaati bukan untuk dilanggar.
Dari pengalaman ini aku belajar bahwa peraturan itu ada untuk ditaati bukan untuk dilanggar.
Tahun
demi tahun pun berlalu, tanpa terasa aku pun mampu melewatinya hingga
pada tahap kelas terakhir yaitu kelas 6 (setara kelas XII SMA). Cobaan
dan rintangan pada tahap ini sangatlah berat bukan hanya dari segi
banyaknya pelajaran namun juga dari amanat-amanat pondok yang
dititipkan untuk dijalankan. Pintar-pintar membagi waktu, hal itu lah
yang paling terpenting pada tahap ini. Dimana aku harus pintar membagi
waktu untuk beribadah, belajar, bermuamalah yang baik terhadap teman
hingga memajukan organisasi. Ujian Akhir pada tahap ini bukanlah hal
yang mudah, dimana semua jenis pelajaran baik pelajaran umum maupun
agama, semua diujikan secara seimbang. Selama 1 bulan diadakan ujian
praktek mengajar, 2 minggu ujian lisan yang terdiri dari praktek ibadah
baik amaliyah dan qouliyah, fiqh, conversation English, Grammar,dan
bahasa arab dan 2 minggu ujian tulis dari semua pelajaran yang pernah
dipelajari dari kelas 1-6 di Gontor, total waktu ujian Siswi Akhir
kurang lebih selama 2 bulan. Awalnya berat ketika dibayangkan namun
ketika dijalankan tidak seberat yang dibayangkan. Tanpa terasa masa-masa sulit itu pun selesai.
Dan kini aku melanjutkan studiku di Universitas Gunadarma Fakultas Psikologi, selain kuliah aku juga mengisi waktuku dengan mengajar privat seperti privat matematika, bahasa inggris dan bahasa Arab, selain mengajar privat aku juga mengajar Pramuka di beberapa sekolah diantaranya MTS Istiqlal Jakarta dan SDN 11 Jagakarsa. Bagiku menggunakan waktu sebaik mungkin adalah hal yang paling terpenting dalam hidup seehingga waktu tidak terbuang sia-sia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar