Mood Disorder ‘gangguan mood’ adalah
gangguan pada emosi, dimana emosi seseorang dapat berada dalam kondisi
kesedihan yang sangat ekstrim atau disebut juga kondisi depresif atau
bisa juga emosinya berada pada kondisi senang/bersemangat
yang ekstrim dan mudah terstimulus yang disebut dengan kondisi
mania. Gangguan Mood merupakan salah satu gangguan kesehatan mental.
Gangguan afektif melibatkan
masalah emosi yang mengganggu, berkisar antara dysphoria (kesedihan)
pada depresi hingga euphoria (elasi/ peningkatan) serta iritabilitas
mood pada mania
Secara garis besarnya, gangguan
mood terbagi dua, yaitu :
1. Gangguan Depresi (unipolar)
2. Gangguan Bipolar.
1. Gangguan depresi dibagi 2 :
·
Major
Depressive Disorder (MDD)
MDD ditandai dengan kondisi emosi sedih dan
kehilangan kemampuan untuk menikmati aktivitas yang biasa dilakukan,
bersama dengan minimal 5 (lima) dari gejala di bawah ini:
1) Tidur
terlalu banyak (10 jam atau lebih) atau terlalu sedikit (sulit untuk
tertidur,
sering terbangun)
2)
Kekakuan motorik : melakukan sesuatu terlalu lamban atau tiba2 cepat
3)
Kehilangan nafsu makan dan berat badan menurun drastis atau
sebaliknya makan
berlebihan sehingga berat badan meningkat drastis.
4)
Kehilangan energi. Tampilannya lemas, tidak bersemangat, tidak tertarik melakukan
apapun, bahu menunduk, kepala lemas, seolah tidak kuat berjalan
5) Merasa
tidak berharga
6)
Kesulitan untuk berkonsentrasi, berpikir, dan membuat keputusan (kognitif)
7) Muncul
pikiran tentang kematian berulang kali, atau tentang bunuh diri.
8) sosial
: masih bisa bicara tapi ringan dan tidak banyak, tdk ingin bicara dengan orang
lain (berat)
Gejala-gejala
ini muncul hampir sepanjang hari, setiap hari, selama minimal 2 (dua) minggu dan
bukan dikarenakan kehilangan yang wajar, misalnya karena suami meninggal.
MDD inilah yang sering disebut masyarakat umum dengan istilah
depresi.
·
Dysthymic
disorder (gangguan distimik/distimia) merupakan gangguan
depresi yang kronis. Individu yang didiagnosis mengalami gangguan
distimik mengalami kondisi depresif lebih dari separuh waktu dari minimal
2 (dua) tahun. Jadi, dalam jangka waktu 2 (dua) tahun, separuh dari waktu
tersebut individu ini mengalami kondisi depresif, minimal mengalami 2 (dua)
dari gejala di bawah ini:
1)
Kehilangan nafsu makan/sebaliknya
2) Tidur
terlalu banyak/terlalu sedikit
3) Merasa
diri tidak berharga
4)
Kesulitan berkonsentrasi dan mengambil keputusan
5) Merasa
kehilangan harapan
6)
kehilangan energi atau kurang bergairah
Gejala
tidak tampak jelas lebih dari 2 (dua) bulan. Tidak ada episode MDD selama 2
tahun pertama gejala muncul. Gejala yang dialami lebih ringan daripada MDD
namun dengan waktu yang lebih lama.
Prevalensi
penderita gangguan depresi mayor :
1. Lebih banyak pada perempuan
2. Kelas ekonomi bawah
3. Usia 20-an
4. Cenderung kronis dan berulang
2. Gangguan Bipolar
Gangguan
Mood yang kedua ialah gangguan bipolar. Disebut bipolar karena ada episode
manik dan depresif, keduanya merupakan dua kutub yang berbeda. Episode
ialah jangka waktu antara kemunculan gejala. Manik/mania merupakan kondisi
iritabilitas yang tinggi. Individu dengan kondisi manik menunjukkan gejala
mudah terstimulasi, sangat bersemangat/energetik, sangat ‘bahagia’ (tertawa,
bercanda), kepercayaan diri berlebihan, impulsif (tidak memikirkan
konsekuensi tindakannya), berbicara tidak terkendali, cepat, dan
berpindah-pindah ide, serta dapat tidak tidur selama dua
hari berturut-turut selama ia mengalami kondisi manik ini.
Gangguan
bipolar ini ada 3 (tiga) jenis, yaitu Bipolar I, Bipolar II, dan Cyclothymic
Disorder (gangguan
siklotimik/siklotimia).
Gangguan
Bipolar I
Paling
tidak mengalami satu episode manik secara penuh.
Di banyak
kasus, individu mengalami perubahan mood antara rasa girang dan depresi
diselingi dengan periode antara berupa mood normal.
Periode
yang jelas dan persisten dari mood yang naik, meluap-luap atau irritable,
minimal 1 minggu. Dalam periode ini ada 3 atau lebih simtom berikut (atau 4
simtom jika mood hanya irritable)
Simtom-simtom
:
1.
Meningkatnya kepercayaan
diri atau ide kebesaran
2.
Berkurangnya kebutuhan
untuk tidur
3.
Jadi lebih banyak bicara
aatau tekanan untuk terus bicara
4.
Flight of ideas atau
perasaan subyektif bahwa pikiran seperti berlomba
5.
Distraktibilitas
6.
Peningkatan aktivitas yang
mengarah pada tujuan
7.
Keterlibatan berlebihan
pada aktivitas menyenangkan yang miliki potensi besar untuk timbulkan
konsekuensi menyakitkan
7.
Gangguan
Bipolar II
Diasosiasikan
dengan bentuk maniak yang lebih ringan.
Seseorang
mengalami satu atau lebih episode-episode MDD dan paling tidak satu episode
hipomania (episode yang lebih ringan dari mania).
Tidak
pernah mengalami satu episode mania penuh.
Gangguan Cyclothymic
merupakan gangguan bipolar yang kronis. Pada individu yang mengalami siklotimia
terdapat gejala-gejala depresi yang ringan namun terus menerus dan silih berganti
dengan gejala manik yang ringan juga.
GANGGUAN
MOOD KRONIS : berlangsung lebih dari 2 tahun namun tak pernah cukup
parah untuk didiagnosis depresi utama atau episode manik. Terdiri dari :
Gangguan
Cyclothymic >mirip gangguan Bipolar II (ciri : ada episode
hipomania (percaya diri meningkat, mencari orang lain, sedikit tidur) dan
depresi ringan (merasa tidak adekuat, menarik diri, banyak tidur)
Gangguan
Dysthymic > mood depresif hampir setiap hari, merasa sedih, hilang
kesenangan serta gejala lain depresi > kebanyakan pernah alami gangguan
depresi mayor
Faktor-Faktor
yang Menyebabkan (Etiologi) Gangguan Mood
Dilihat
dari beberapa sudut pandang, ada beberapa hal ynag menyebabkan seseorang itu
mengalami gangguan mood, dan diantara factor-faktor tersebut adalah :
1.
Faktor Biologis
a.
Pengaruh Keluarga dan Genetik
Dalam kaitannya dengan gangguan mood
adalah dalam studi keluarga, para peneliti melihat adanya prevaliansi gangguan
tertentu pada anggota-anggota keluarga keluarga tingkat-pertama dari
orang-orang yang diketahui memiliki gangguan. Dan mereka menemukan bahwa angka
anggota keluarga yang memiliki gangguan suasana perasaan secara konsisten dua
sampai tiga kali lebih tinggi fibanding anggota keluarga kelompok control yang
tidak memiliki gangguan perasaan. Namun, perlu diketahui bahwa jika salah satu
di antara pasangan memiliki gangguan unipolar, maka kemungkinan pasangan
kembarnya untuk memiliki gangguan bipolar yang sangat tipis atau sama sekali
tidak ada. Dan tingkat keparahan mungkin juga terkait dengan banyaknya concordance
(sejauhmana sesuatu dimiliki bersama).
b.
Sistem Neurotransmiter
Gangguan suasana perasaan telah
menjadi subjek studi neurobiologist yang lebih intens. Penelitian
mengimplikasikan pada tingkat serotonin yang rendah dalam etiologi gangguan
suasana perasaan. Hal ini dikarenakan, fungsi primer serotonin adalah mengatur
reaksi-reaksi emosional pada manusia. Dalam hipotesis “permisif” penelitian ini
mengatakan bahwa ketika tingkat serotonin rendah, neurotransmitter lainnya
diizinkan (mood irregularities), termasuk depresi. Anjloknya
norepineferin akan menjadi salah satu akibat terjadinya gangguan mood.
c.
Ritme Tidur dan Sirkadian
Gangguan mood yang dialami
oleh seseorang ini umumnya dapat dilihat dari pertambahan jam tidur yang
semakin meningkat. Dan dalam beberapa tahun telah diketahui bahwa gangguan
tidur merupakan salah satu pertanda bagi kebanyakan gangguan perasaan. Hal ini
terjadi karena, pada orang-orang yang mengalami depresi hanya ada waktu yang
lebih pendek secara signifikan sepelum repid eye movement (REM) sleep
dimulai. REM sleep atau non-REM sleep. Pada saat seseorang
tetidur, mereka akan melalui beberapa subtahapan tidur yang secara progresif
menjadi lebih nyenyak, di mana pada saat itu mereka mencapai tingkat istirahat
yang sesungguhnya. Pada prosesnya, setelah 90 menit seseorang mulai mengalami
REM sleep, di mana otak terjaga dan kita mulai bermimpi. Mata akan
bergerak maju-mundur dengan cepatdi balik kelopak mata, sehingga dinamai dengan
repid eye movement sleep. Dan ketika semakin larut, maka banyaknya REM sleep
akan semakain bertambah. Sedangkan, pada orang yang menderita depresi akan
kehilangan tidur gelombang-lambat mereka.
Selain memasuki periode REM sleep
yang jumlah yang jauh lebih cepat, orang dengan depresi ini akan mengalami
aktvitas REM yang lebih intens. Tak hanya itu, tahapan tidur yang paling
nyenyak hanya berlangsung pendek atau bahkan tidak terjadi sama sekali. Karena
ada beberapa karakteristik tidur hanya terjadi pada saat seseorang sedang
mengalami depresi dan tidak terjadi pada saat lainnya.
d.
Aktivitas Gelombang Otak
Ada beberapa indicator yang dapat
dilihat dari aktivitas gelombang otak yang menunjukkan adanya kerentanan
biologis seseorang terhadap depresi. Hal ini ditunjukkan oleh aktivitas
gelombang otak yang didemonstrasikan oleh peneliti bahwa para penderita depresi
menunjukkan aktivasi lebih besar pada anterior sebelah kanan (dan lebih kecil
pada aktivasi sebelah kiri) disbanding orang-orang yang tidak mengalami depresi
(Durand, 2006: 295-299).
2.
Faktor Psikologis
Dalam
mengulas kontribusi genetic terhadap penyebab depresi dapat dinyatakan bahwa
60%-80% penyebab depresi dapat diatribusikan pada pengalaman-penagalaman
psikologis. Selain itu pengalaman itu bersifat unik untuk masing-masing
individu.
a.
Peristiwa Kehidupan yang Stressful
Peristiwa hidup yang penuh dengan
tekanan seperti kehilangan orang-orang yang divintai, putusnuya hubungan
romantic, lamanya hidup menganggur, sakit fisik, masalah dalam pernikahan dan
hubungan, kesulitan ekonomi, dan lain sebagainya ini dapat meningkatkan resiko
berkembangnya gangguan mood atau kambuhnya sebuah gangguan mood,
terutama depresi mayor. Dan pada orang-orang dengan depresi mayor ini sering
kali kurang memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah
interpersonal dengan teman, teman kerja atau supervisor.
b.
Teori Humanistic
Menurut teori ini, seseornag
menjadi depresi saat mereka tidak dapat mengisi keberadaan mereka dengan makna
dan tidak dapat membuat pilihan-pilihan autentik yang menghasilkan self-fulfillment.
Kemudian dunia dianggap sebagai tempat yang menjemukan (Nevid, 2003: 240-243).
c.
Learned Helplessness
Learned helplessness merupakan
kedaan diri yang selalu membuat atribusi bahwa mereka tidak memiliki kontrol
atas stress dalam kehidupannya (baik sesuai kenyataan maupun tidak).
d.
Negative Cognitive Styles (beck’ theory)
Negative cognitive styles adalah
kesalahan berfikir yang difokuskan secara negative pada tiga hal, yaitu dirinya
sendiri, dunian terdekatnya, dan masa depannya. Di mana menurut Beck, penderita
depresi memandang yang terburuk dari segala hal. Bagi mereka, kemunduran
terkevil sekalipun merupakan bencana besar.
e. Neurotism
berkaitan dengan kepribadian yang
lebih sering memunculkan perasaan yang negatif
hingga mudah rapuh dan mengalami depresi
f. Rumination Theory
kecenderungan untuk terus menerus
mengingat pengalaman yang sedih
3.
Faktor Sosial dan Kultural
Sejumlah
faktor social cultural memberikan kontribusi pada onset atau bertahannya
dperesi. Faktor yang paling menonjol antara lain adalah hubungan perkawinan,
gender, dan dukungan social.
a.
Hubungan Perkawinan
Maksudnya adalah hubungan
perkawinan yang tidak memuaskan yang bisa menyebabkan individu bisa mengalami
gangguan perasaan seperti depresi.
b.
Perbedaan Gender
Menurut Cyranowski, dkk (2000)
Sumber perbedaan ini bersifat cultural, karena peran jenis yang berbeda untuk
laki-laki dan perempuan di masyarakat. Di mana laki-laki sangat di dorong
mandiri, masterful, dan asertif, sedangkan perempuan sebaliknya
diharapkan lebih pasif, lebih sensitive terhadap orang lain, dan mungkin lebih
banyak bergantung pada orang lain.
c.
Dukungan Social
Dalam sebuah penelitian yang
dilakukan oleh Johnson, Winett, dkk (1999) tentang efek-efek dukungan social di
dalam kesembuhan yang pesat dari episode manic maupun depresif pada pasien
gangguan bipolar, mereka menemukan hasil yang mengejutkan bahwa, jaringan
pertemanan, dan keluarga yang suportif secara social membantu terjadinya
kesembuhan cepat dari episode depresif, tetapi tidak pada episode manic. Dari
hasil penelitian ini dan juga studi-studi prospektif yang dilakukan menguatkan
tentang pentingnya dukungan social (atau kekurangan dukungan social) dalam
memprediksi onset atau gejala-gejala depresi yang muncul kemudian (Durand,
2006: 303-308).
Terapi untuk Gangguan Mood
Ada
beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menangani seseorang yang mengalami
gangguan mood, beberapa diantaranya adalah :
1.
Pengobatan
Pemberian
antidepresian yang dapat membantu memgontrol gejala dan mempertahankan fungsi
neurotransmitter. Ada 3 tipe antidepresian yang sering digunakan, yaitu :
a.
Trisiklik (Tofranil, Elavil)
Trisiklik
ini berfungsi untuk memberikan efek dengan mendesentralisasi norepinefferin.
b.
Monamine Oxidase Inhibitors (MAOIs)
MAOIs ini
berfungsi untuk memblokir enzim MAO yang memogokkan neurotransmitter seperti
norepinefrin dan serotonin.
c.
Selective Serotogenic Reuptake Inhibitors (SSRIs)
SSRIs ini
secara spesifik memblokir reuptake serotonin pra-sinaptik. Dan secara
temporer menaikkan level serotonin dibagian reseptornya.
d.
Lithium
Lithium
ini merupakan garam yang dapat ditemukan dalam kandungan air minum yang kadar
jumlahnya sangat kecil hingga tidak memberikan efek apapun. Lithium sendiri
memiliki sebuah keunggulan yang membedakannya dari antidepresan lainnya.
Karena, substansinya lebih sering efektif untuk mencegah dan menangani
episode-episode manic.
2.
Terapi Kognitif-Behavioral
Dalam
prosees terapi ini klien diajarkan untuk menelaah secara cermat cara berfikir mereka
saat mereka depresi dan untuk menengarai kesalahan-kesalahan “depresif” dalam
berpikir. Tak hanya itu, klien juga diajarkan bahwa kesalahan dalam berfikir
dapa menyebabkan depresi secara langsung. Dan penanganannya melibatkan tindakan
mengkoreksi kesalahan-kesalahan berpikir dan menggantinya dengan pemikiran dan
penilaian yang kurang menyebabkan depresi dan (mungkin) lebih relistis.
3.
Psikoterapi Interpersonal (IPT / Interpersonal Psychotheraphy)
IPT atau
Psikoterapi Interpersonal ini memfokuskan pada penyelesaian berbagai masalah
dalam hubungan yang sudah ada dan belajar membangun hubungan-hubungan
interpersonal yang penting dan baru. Dalam proses IPT ini sangat terstruktur.
Pada proses awal terapis harus mengidentifikasi berbagai stressor yang mungkin
mencetuskan depresi. Setelah itu, terapis mengklasifikasikan dan mendefinisikan
sebuah perselisihan interpersonal. Setelah itu, mencari penyelesaiannya dengan
:
· Tahap
negosiasi
· Tahap
jalan bunyu
· Tahap
resolusi
4.
ECT (Elektrokonvulsif dan Simulasi Magnetik Transkranial/ TMS)
ECT
adalah penangan yang cukup aman dan efektif untuk depresi berat yang tidak
menunjukkan perbaikan dengan penanganan bentuk lain. ECT merupakan bentuk
penanganan yang dalam pengadministrasiannya pasien diberi anestsesi/ obat bius
untuk mengurangi perasaan tidak nyaman dan diberikan obat perelaks otot untuk
mencegah kerusakan tulang akibat konvulsi selama sizure (Kejang-kejang).
Kemudian listrik diadministrasikan secara langsung melalui otak selama kurang
dari satu detik. Bentuk penanganan ECT ini terbukti untuk menaikkan lever
serotonin, memblokir hormone-hormon stress dan membantu terjadinya neurogenesis
dalam hipokampus.
Sedangkan
TMS (Transcrantial Magnetic Simulation) bekerja dengan cara menempatkan
sebuah gulungan magnetic diatas kepala untuk membangkitkan denyut
elektromagnetik yang dialokasikan dengan tepat. Dalam penanganan ini anastesi
tidak dibutuhkan karena, efek sampingnya biasanya terbatas dalam bentuk sakit
kepala.
TMS dan
ECT ini sama-sama efektif untuk pasien-pasien dengan depresi berat atau depresi
psikotik yang resisten dengan penanganan (belum menunjukkan respons terhadap
obat atau penanganan psikologis) (Durand, 2006: 311-318)