Jumat, 22 Desember 2017

My Biography

Namaku Zulfa Ainiyah aku lahir di Bogor pada hari Rabu, 3 April 1996. Aku terlahir dari rahim seorang perempuan yang bernama Siti Masitoh, beliau adalah ibu kandungku dan dari seorang laki-laki yang bernama Matroji ya beliau adalah ayahku dan mereka berdua adalah orang yang paling berharga dalam hidupku yaitu orang tuaku.
Ibuku adalah seorang guru disalah satu sekolah taman bermain kanak-kanak yaitu TK Islam Al-Kautsar yang terletak di daerah Cinere dan Ayahku adalah seorang wiraswasta.
Aku adalah seorang kakak dari 2 adik laki-lakiku. Adikku yang pertama bernama Ikhwan Maftuh Ahnan dan yang Kedua Muhammad Fauzil Adhim, mereka berdua kini sedang menimba ilmu di Pondok Tahfidz Al-Muqodasah Ponorogo.

Aku adalah seorang Alumni dari Sekolah Dasar Negeri 01 Cinere, selama 6 tahun aku menuntut ilmu disana banyak sekali pengalaman, pelajaran, teman hingga sahabat yang aku dapatkan. ketika masih duduk dibangku SD, dulu aku terkenal sebagai anak perempuan yang berani (kata mereka) karena disaat teman-temanku takut pada anak lelaki justru aku malah melawannya, dan aku sadari karena hal itulah mengapa mereka para teman-temanku yang laki-laki gemar sekali menjailiku.

Selesai dari bangku Sekolah Dasar aku mempunyai keinginan untuk meneruskan pendidikanku di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri yang ada di DKI Jakarta, namun apa dayaku, ibuku menginginkanku untuk melanjutkan menimba ilmu Di Pondok Modern Darussalam Gontor, dan dari Pondok inilah aku belajar bagaimana arti kehidupan yang sebenarnya.

Aku bersyukur, ibuku menyekolahkanku di salah satu Pondok Pesantren terbesar di Indonesia yaitu Pondok Modern Darussalam Gontor. 
Aku belajar di pondok ini selama 6 tahun dan ditambah pengabdian 1 tahun jadi total waktu belajarku di pondok tercinta adalah 7 tahun. 

7 tahun bukanlah waktu yang sebentar, banyak pengalaman berharga yang aku dapatkan. 

Di awal masuk pondok, aku benar-benar tidak tau apa-apa, tidak mempunya teman, dan rasanya ingin sekali aku kembali ke Depok. Tapi aku sadar bahwa jarak antara Depok-Ngawi tidaklah dekat, dan darisitu aku belajar bertahan. Lambat laun aku mempunyai banyak teman dan aku pun mulai merasa nyaman berada di pondok ini.
Di tahun selanjutnya aku dipindah di pondok cabang Gontor yang ada di Kediri yaitu Pondok Modern Darussalam Gontor Putri 5. Awalnya aku sedih dan bertanya-tanya mengapa aku ditempatkan di GP 5, namun setelah sampai di lokasi aku benar-benar jatuh cinta pada tempat ini, tempatnya sejuk, asri, banyak sawah, pemandangan gunung yang indah, airnya dingin dan jernih, keadaan ini sungguh jauh dari keadaan pondok sebelumnya di Ngawi. 
Pengalaman paling berkesan selama aku berada di GP 5 ini adalah ketika aku duduk di bangku kelas 3 (setara dengan kelas 9 SMP) dimana pada saat itu aku sering sekali melanggar peraturan yang ada di pondok, dari telat berangkat ke masjid, tidak membawa tas sendal, berbicara bahasa indonesia dan yang terparah menyalah gunakan tempat penerimaan telfon. Hukuman terberat yang aku dapatkan pada saat aku kelas 3 adalah ketika kerudung putihku harus diganti dengan kerudung merah karena pelanggaranku. Rasa malu, sedih, kesal bercampur aduk jadi satu, ingin pulang rasanya tetapi aku sadar bahwa aku tidak selemah itu. Dan hukuman tidak berhenti hanya pada pergantian kerudung saja, hukuman lainnya menunggu seperti di jemur di siang hari dibawah terik matahari yang disaksikan oleh ratusan santri yang berlalu lalang setelah pulang dari sholat zuhur di masjid. Dengan papan bertuliskan "i was abused the cottage facilities"
Dari pengalaman ini aku belajar bahwa peraturan itu ada untuk ditaati bukan untuk dilanggar. 
Tahun demi tahun pun berlalu, tanpa terasa aku pun mampu melewatinya hingga pada tahap kelas terakhir yaitu kelas 6 (setara kelas XII SMA). Cobaan dan rintangan pada tahap ini sangatlah berat bukan hanya dari segi banyaknya pelajaran  namun juga dari amanat-amanat pondok yang dititipkan untuk dijalankan. Pintar-pintar membagi waktu, hal itu lah yang paling terpenting pada tahap ini. Dimana aku harus pintar membagi waktu untuk beribadah, belajar, bermuamalah yang baik terhadap teman hingga memajukan organisasi. Ujian Akhir pada tahap ini bukanlah hal yang mudah, dimana semua jenis pelajaran baik pelajaran umum maupun agama, semua diujikan secara seimbang. Selama 1 bulan diadakan ujian praktek mengajar, 2 minggu ujian lisan yang terdiri dari praktek ibadah baik amaliyah dan qouliyah, fiqh, conversation English, Grammar,dan bahasa arab dan 2 minggu ujian tulis dari semua pelajaran yang pernah dipelajari dari kelas 1-6 di Gontor, total waktu ujian Siswi Akhir kurang lebih selama 2 bulan.  Awalnya berat ketika dibayangkan namun ketika dijalankan tidak seberat yang dibayangkan. Tanpa terasa masa-masa sulit itu pun selesai.
Dan kini aku melanjutkan studiku di Universitas Gunadarma Fakultas Psikologi, selain kuliah aku juga mengisi waktuku dengan mengajar privat seperti privat matematika, bahasa inggris dan bahasa Arab, selain mengajar privat aku juga mengajar Pramuka di beberapa sekolah diantaranya MTS Istiqlal Jakarta dan SDN 11 Jagakarsa. Bagiku menggunakan waktu sebaik mungkin adalah hal yang paling terpenting dalam hidup seehingga waktu tidak terbuang sia-sia.

Sabtu, 09 Desember 2017

Mood Disorder



Mood Disorder ‘gangguan mood’ adalah gangguan pada emosi, dimana emosi seseorang dapat berada dalam kondisi kesedihan yang sangat ekstrim atau disebut juga kondisi depresif atau bisa juga emosinya berada pada kondisi senang/bersemangat yang ekstrim dan mudah terstimulus yang disebut dengan kondisi mania. Gangguan Mood merupakan salah satu gangguan kesehatan mental.

Gangguan afektif melibatkan masalah emosi yang mengganggu, berkisar antara dysphoria (kesedihan) pada depresi hingga euphoria (elasi/ peningkatan) serta iritabilitas mood pada mania

Secara garis besarnya, gangguan mood terbagi dua, yaitu :
1.      Gangguan Depresi (unipolar)
2.      Gangguan Bipolar.

1.      Gangguan depresi dibagi 2 :
·         Major Depressive Disorder (MDD)
MDD ditandai dengan kondisi emosi sedih dan kehilangan kemampuan untuk menikmati aktivitas yang biasa dilakukan, bersama dengan minimal 5 (lima) dari gejala di bawah ini:
1) Tidur terlalu banyak (10 jam atau lebih) atau terlalu sedikit (sulit untuk tertidur,
    sering terbangun)
2) Kekakuan motorik : melakukan sesuatu terlalu lamban atau tiba2 cepat
3) Kehilangan nafsu makan dan berat badan menurun drastis atau sebaliknya makan
    berlebihan sehingga berat badan meningkat drastis.
4) Kehilangan energi. Tampilannya lemas, tidak bersemangat, tidak tertarik melakukan apapun, bahu menunduk, kepala lemas, seolah tidak kuat berjalan
5) Merasa tidak berharga
6) Kesulitan untuk berkonsentrasi, berpikir, dan membuat keputusan (kognitif)
7) Muncul pikiran tentang kematian berulang kali, atau tentang bunuh diri.
8) sosial : masih bisa bicara tapi ringan dan tidak banyak, tdk ingin bicara dengan orang lain (berat)

Gejala-gejala ini muncul hampir sepanjang hari, setiap hari, selama minimal 2 (dua) minggu dan bukan dikarenakan kehilangan yang wajar, misalnya karena suami meninggal. MDD inilah yang sering disebut masyarakat umum dengan istilah depresi.

·         Dysthymic disorder (gangguan distimik/distimia) merupakan gangguan depresi yang kronis. Individu yang didiagnosis mengalami gangguan distimik mengalami kondisi depresif lebih dari separuh waktu dari minimal 2 (dua) tahun. Jadi, dalam jangka waktu 2 (dua) tahun, separuh dari waktu tersebut individu ini mengalami kondisi depresif, minimal mengalami 2 (dua) dari gejala di bawah ini:
1) Kehilangan nafsu makan/sebaliknya
2) Tidur terlalu banyak/terlalu sedikit
3) Merasa diri tidak berharga
4) Kesulitan berkonsentrasi dan mengambil keputusan
5) Merasa kehilangan harapan
6) kehilangan energi atau kurang bergairah

Gejala tidak tampak jelas lebih dari 2 (dua) bulan. Tidak ada episode MDD selama 2 tahun pertama gejala muncul. Gejala yang dialami lebih ringan daripada MDD namun dengan waktu yang lebih lama.

Prevalensi penderita gangguan depresi mayor :
1.      Lebih banyak pada perempuan
2.      Kelas ekonomi bawah
3.      Usia 20-an
4.      Cenderung kronis dan berulang


2.      Gangguan Bipolar
Gangguan Mood yang kedua ialah gangguan bipolar. Disebut bipolar karena ada episode manik dan depresif, keduanya merupakan dua kutub yang berbeda. Episode ialah jangka waktu antara kemunculan gejala. Manik/mania merupakan kondisi iritabilitas yang tinggi. Individu dengan kondisi manik menunjukkan gejala mudah terstimulasi, sangat bersemangat/energetik, sangat ‘bahagia’ (tertawa, bercanda), kepercayaan diri berlebihan, impulsif (tidak memikirkan konsekuensi tindakannya), berbicara tidak terkendali, cepat, dan berpindah-pindah ide, serta dapat tidak tidur selama dua hari berturut-turut selama ia mengalami kondisi manik ini. 

Gangguan bipolar ini ada 3 (tiga) jenis, yaitu Bipolar I, Bipolar II, dan Cyclothymic
Disorder (gangguan siklotimik/siklotimia).

Gangguan Bipolar I
Paling tidak mengalami satu episode manik secara penuh.
Di banyak kasus, individu mengalami perubahan mood antara rasa girang dan depresi diselingi dengan periode antara berupa mood normal.
Periode yang jelas dan persisten dari mood yang naik, meluap-luap atau irritable, minimal 1 minggu. Dalam periode ini ada 3 atau lebih simtom berikut (atau 4 simtom jika mood hanya irritable)
Simtom-simtom :
1.      Meningkatnya kepercayaan diri atau ide kebesaran
2.      Berkurangnya kebutuhan untuk tidur
3.      Jadi lebih banyak bicara aatau tekanan untuk terus bicara
4.      Flight of ideas atau perasaan subyektif bahwa pikiran seperti berlomba
5.      Distraktibilitas
6.      Peningkatan aktivitas yang mengarah pada tujuan
7.      Keterlibatan berlebihan pada aktivitas menyenangkan yang miliki potensi besar untuk timbulkan konsekuensi menyakitkan
7.

Gangguan Bipolar II
Diasosiasikan dengan bentuk maniak yang lebih ringan.
Seseorang mengalami satu atau lebih episode-episode MDD dan paling tidak satu episode hipomania (episode yang lebih ringan dari mania).
Tidak pernah mengalami satu episode mania penuh.

Gangguan Cyclothymic merupakan gangguan bipolar yang kronis. Pada individu yang mengalami siklotimia terdapat gejala-gejala depresi yang ringan namun terus menerus dan silih berganti dengan gejala manik yang ringan juga.

GANGGUAN MOOD KRONIS : berlangsung lebih dari 2 tahun namun tak pernah cukup parah untuk didiagnosis depresi utama atau episode manik. Terdiri dari :
Gangguan Cyclothymic >mirip gangguan Bipolar II (ciri : ada episode hipomania (percaya diri meningkat, mencari orang lain, sedikit tidur) dan depresi ringan (merasa tidak adekuat, menarik diri, banyak tidur)
Gangguan Dysthymic > mood depresif hampir setiap hari, merasa sedih, hilang kesenangan serta gejala lain depresi > kebanyakan pernah alami gangguan depresi mayor
Faktor-Faktor  yang Menyebabkan (Etiologi) Gangguan Mood
Dilihat dari beberapa sudut pandang, ada beberapa hal ynag menyebabkan seseorang itu mengalami gangguan mood, dan diantara factor-faktor tersebut adalah :
1.      Faktor Biologis
a.    Pengaruh Keluarga dan Genetik
Dalam kaitannya dengan gangguan mood adalah dalam studi keluarga, para peneliti melihat adanya prevaliansi gangguan tertentu pada anggota-anggota keluarga keluarga tingkat-pertama dari orang-orang yang diketahui memiliki gangguan. Dan mereka menemukan bahwa angka anggota keluarga yang memiliki gangguan suasana perasaan secara konsisten dua sampai tiga kali lebih tinggi fibanding anggota keluarga kelompok control yang tidak memiliki gangguan perasaan. Namun, perlu diketahui bahwa jika salah satu di antara pasangan memiliki gangguan unipolar, maka kemungkinan pasangan kembarnya untuk memiliki gangguan bipolar yang sangat tipis atau sama sekali tidak ada. Dan tingkat keparahan mungkin juga terkait dengan banyaknya concordance (sejauhmana sesuatu dimiliki bersama).
b.   Sistem Neurotransmiter
Gangguan suasana perasaan telah menjadi subjek studi neurobiologist yang lebih intens. Penelitian mengimplikasikan pada tingkat serotonin yang rendah dalam etiologi gangguan suasana perasaan. Hal ini dikarenakan, fungsi primer serotonin adalah mengatur reaksi-reaksi emosional pada manusia. Dalam hipotesis “permisif” penelitian ini mengatakan bahwa ketika tingkat serotonin rendah, neurotransmitter lainnya diizinkan (mood irregularities), termasuk depresi. Anjloknya norepineferin akan menjadi salah satu akibat terjadinya gangguan mood.
c.    Ritme Tidur dan Sirkadian
Gangguan mood yang dialami oleh seseorang ini umumnya dapat dilihat dari pertambahan jam tidur yang semakin meningkat. Dan dalam beberapa tahun telah diketahui bahwa gangguan tidur merupakan salah satu pertanda bagi kebanyakan gangguan perasaan. Hal ini terjadi karena, pada orang-orang yang mengalami depresi hanya ada waktu yang lebih pendek secara signifikan sepelum repid eye movement (REM) sleep dimulai. REM sleep atau non-REM sleep. Pada saat seseorang tetidur, mereka akan melalui beberapa subtahapan tidur yang secara progresif menjadi lebih nyenyak, di mana pada saat itu mereka mencapai tingkat istirahat yang sesungguhnya. Pada prosesnya, setelah 90 menit seseorang mulai mengalami REM sleep, di mana otak terjaga dan kita mulai bermimpi. Mata akan bergerak maju-mundur dengan cepatdi balik kelopak mata, sehingga dinamai dengan repid eye movement sleep. Dan ketika semakin larut, maka banyaknya REM sleep akan semakain bertambah. Sedangkan, pada orang yang menderita depresi akan kehilangan tidur gelombang-lambat mereka.
Selain memasuki periode REM sleep yang jumlah yang jauh lebih cepat, orang dengan depresi ini akan mengalami aktvitas REM yang lebih intens. Tak hanya itu, tahapan tidur yang paling nyenyak hanya berlangsung pendek atau bahkan tidak terjadi sama sekali. Karena ada beberapa karakteristik tidur hanya terjadi pada saat seseorang sedang mengalami depresi dan tidak terjadi pada saat lainnya.
d.   Aktivitas Gelombang Otak
Ada beberapa indicator yang dapat dilihat dari aktivitas gelombang otak yang menunjukkan adanya kerentanan biologis seseorang terhadap depresi. Hal ini ditunjukkan oleh aktivitas gelombang otak yang didemonstrasikan oleh peneliti bahwa para penderita depresi menunjukkan aktivasi lebih besar pada anterior sebelah kanan (dan lebih kecil pada aktivasi sebelah kiri) disbanding orang-orang yang tidak mengalami depresi (Durand, 2006: 295-299).
2.      Faktor Psikologis
Dalam mengulas kontribusi genetic terhadap penyebab depresi dapat dinyatakan bahwa 60%-80% penyebab depresi dapat diatribusikan pada pengalaman-penagalaman psikologis. Selain itu pengalaman itu bersifat unik untuk masing-masing individu.
a.    Peristiwa Kehidupan yang Stressful
Peristiwa hidup yang penuh dengan tekanan seperti kehilangan orang-orang yang divintai, putusnuya hubungan romantic, lamanya hidup menganggur, sakit fisik, masalah dalam pernikahan dan hubungan, kesulitan ekonomi, dan lain sebagainya ini dapat meningkatkan resiko berkembangnya gangguan mood atau kambuhnya sebuah gangguan mood, terutama depresi mayor. Dan pada orang-orang dengan depresi mayor ini sering kali kurang memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah interpersonal dengan teman, teman kerja atau supervisor.
b.   Teori Humanistic
Menurut teori ini, seseornag menjadi depresi saat mereka tidak dapat mengisi keberadaan mereka dengan makna dan tidak dapat membuat pilihan-pilihan autentik yang menghasilkan self-fulfillment. Kemudian dunia dianggap sebagai tempat yang menjemukan (Nevid, 2003: 240-243).
c.    Learned Helplessness
Learned helplessness merupakan kedaan diri yang selalu membuat atribusi bahwa mereka tidak memiliki kontrol atas stress dalam kehidupannya (baik sesuai kenyataan maupun tidak).
d.   Negative Cognitive Styles (beck’ theory)
Negative cognitive styles adalah kesalahan berfikir yang difokuskan secara negative pada tiga hal, yaitu dirinya sendiri, dunian terdekatnya, dan masa depannya. Di mana menurut Beck, penderita depresi memandang yang terburuk dari segala hal. Bagi mereka, kemunduran terkevil sekalipun merupakan bencana besar.
e. Neurotism
berkaitan dengan kepribadian yang lebih sering memunculkan perasaan yang negatif  hingga mudah rapuh dan mengalami depresi
f. Rumination Theory
kecenderungan untuk terus menerus mengingat pengalaman yang sedih

3.      Faktor Sosial dan Kultural
Sejumlah faktor social cultural memberikan kontribusi pada onset atau bertahannya dperesi. Faktor yang paling menonjol antara lain adalah hubungan perkawinan, gender, dan dukungan social.
a.    Hubungan Perkawinan
Maksudnya adalah hubungan perkawinan yang tidak memuaskan yang bisa menyebabkan individu bisa mengalami gangguan perasaan seperti depresi.
b.   Perbedaan Gender
Menurut Cyranowski, dkk (2000) Sumber perbedaan ini bersifat cultural, karena peran jenis yang berbeda untuk laki-laki dan perempuan di masyarakat.  Di mana laki-laki sangat di dorong mandiri, masterful, dan asertif, sedangkan perempuan sebaliknya diharapkan lebih pasif, lebih sensitive terhadap orang lain, dan mungkin lebih banyak bergantung pada orang lain.
c.    Dukungan Social
Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Johnson, Winett, dkk (1999) tentang efek-efek dukungan social di dalam kesembuhan yang pesat dari episode manic maupun depresif pada pasien gangguan bipolar, mereka menemukan hasil yang mengejutkan bahwa, jaringan pertemanan, dan keluarga yang suportif secara social membantu terjadinya kesembuhan cepat dari episode depresif, tetapi tidak pada episode manic. Dari hasil penelitian ini dan juga studi-studi prospektif yang dilakukan menguatkan tentang pentingnya dukungan social (atau kekurangan dukungan social) dalam memprediksi onset atau gejala-gejala depresi yang muncul kemudian (Durand, 2006: 303-308).

Terapi untuk Gangguan Mood
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menangani seseorang yang mengalami gangguan mood, beberapa diantaranya adalah :
1.      Pengobatan
Pemberian antidepresian yang dapat membantu memgontrol gejala dan mempertahankan fungsi neurotransmitter. Ada 3 tipe antidepresian yang sering digunakan, yaitu :
a.       Trisiklik (Tofranil, Elavil)
Trisiklik ini berfungsi untuk memberikan efek dengan mendesentralisasi norepinefferin.
b.      Monamine Oxidase Inhibitors (MAOIs)
MAOIs ini berfungsi untuk memblokir enzim MAO yang memogokkan neurotransmitter seperti norepinefrin dan serotonin.
c.       Selective Serotogenic Reuptake Inhibitors (SSRIs)
SSRIs ini secara spesifik memblokir reuptake serotonin pra-sinaptik. Dan secara temporer menaikkan level serotonin dibagian reseptornya.
d.      Lithium  
Lithium ini merupakan garam yang dapat ditemukan dalam kandungan air minum yang kadar jumlahnya sangat kecil hingga tidak memberikan efek apapun. Lithium sendiri memiliki sebuah keunggulan yang membedakannya dari antidepresan lainnya. Karena, substansinya lebih sering efektif untuk mencegah dan menangani episode-episode manic.
2.      Terapi Kognitif-Behavioral
Dalam prosees terapi ini klien diajarkan untuk menelaah secara cermat cara berfikir mereka saat mereka depresi dan untuk menengarai kesalahan-kesalahan “depresif” dalam berpikir. Tak hanya itu, klien juga diajarkan bahwa kesalahan dalam berfikir dapa menyebabkan depresi secara langsung. Dan penanganannya melibatkan tindakan mengkoreksi kesalahan-kesalahan berpikir dan menggantinya dengan pemikiran dan penilaian yang kurang menyebabkan depresi dan (mungkin) lebih relistis.
3.      Psikoterapi Interpersonal (IPT / Interpersonal Psychotheraphy)
IPT atau Psikoterapi Interpersonal ini memfokuskan pada penyelesaian berbagai masalah dalam hubungan yang sudah ada dan belajar membangun hubungan-hubungan interpersonal yang penting dan baru. Dalam proses IPT ini sangat terstruktur. Pada proses awal terapis harus mengidentifikasi berbagai stressor yang mungkin mencetuskan depresi. Setelah itu, terapis mengklasifikasikan dan mendefinisikan sebuah perselisihan interpersonal. Setelah itu, mencari penyelesaiannya dengan :
·         Tahap negosiasi
·         Tahap jalan bunyu
·         Tahap resolusi
4.      ECT (Elektrokonvulsif dan Simulasi Magnetik Transkranial/ TMS)
ECT adalah penangan yang cukup aman dan efektif untuk depresi berat yang tidak menunjukkan perbaikan dengan penanganan bentuk lain. ECT merupakan bentuk penanganan yang dalam pengadministrasiannya pasien diberi anestsesi/ obat bius untuk mengurangi perasaan tidak nyaman dan diberikan obat perelaks otot untuk mencegah kerusakan tulang akibat konvulsi selama sizure (Kejang-kejang). Kemudian listrik diadministrasikan secara langsung melalui otak selama kurang dari satu detik. Bentuk penanganan ECT ini terbukti untuk menaikkan lever serotonin, memblokir hormone-hormon stress dan membantu terjadinya neurogenesis dalam hipokampus.
Sedangkan TMS (Transcrantial Magnetic Simulation) bekerja dengan cara menempatkan sebuah gulungan magnetic diatas kepala untuk membangkitkan denyut elektromagnetik yang dialokasikan dengan tepat. Dalam penanganan ini anastesi tidak dibutuhkan karena, efek sampingnya biasanya terbatas dalam bentuk sakit kepala.
TMS dan ECT ini sama-sama efektif untuk pasien-pasien dengan depresi berat atau depresi psikotik yang resisten dengan penanganan (belum menunjukkan respons terhadap obat atau penanganan psikologis) (Durand, 2006: 311-318)