Jumat, 10 Juni 2016

Tugas Soft Skill ( Gejala Rumah Kaca )



Gejala Rumah Kaca
Gejala rumah kaca, yang pertama kali diusulkan oleh Joseph Fourier pada tahun 1824, merupakan proses pemanasan permukaan suatu benda langit (terutama planet atau satelit) yang disebabkan oleh komposisi dan keadaan atmosfernya. Mars, Venus, dan benda langit yang memiliki atmosfer lainnya (seperti satelit alami Saturnus, Titan) memiliki efek rumah kaca, hanya saja artikel ini hanya membahas pengaruh di Bumi.
Efek rumah kaca dapat digunakan untuk menunjuk dua hal berbeda: efek rumah kaca alami yang terjadi secara alami di bumi, dan efek rumah kaca ditingkatkan yang terjadi akibat kegiatan manusia (lihat juga pemanasan global). Yang belakang diterima oleh semua; yang pertama diterima kebanyakan oleh ilmuwan, meskipun ada beberapa perbedaan pendapat.

Penyebab gejala rumah kaca yang mengakibatkan udara panas/gerah ketika mendung
Efek rumah kaca disebabkan karena meningkatnya konsentrasi gas karbon dioksida (CO2) dan gas-gas lainnya di atmosfer. Meningkatnya konsentrasi gas CO2 ini disebabkan oleh banyaknya pembakaran bahan bakar minyak, batu bara dan bahan bakar organik lainnya yang melebihi kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk menyerapnya.
Energi yang masuk ke Bumi:
  • 25% dipantulkan oleh awan atau partikel lain di atmosfer
  • 25% diserap awan
  • 45% diserap permukaan bumi
  • 10% dipantulkan kembali oleh permukaan bumi
Energi yang diserap dipantulkan kembali dalam bentuk radiasi inframerah oleh awan dan permukaan bumi. Namun sebagian besar inframerah yang dipancarkan bumi tertahan oleh awan dan gas CO2 dan gas lainnya, untuk dikembalikan ke permukaan bumi. Dalam keadaan normal, efek rumah kaca diperlukan, dengan adanya efek rumah kaca perbedaan suhu antara siang dan malam di bumi tidak terlalu jauh berbeda.

Selain gas CO2, yang dapat menimbulkan efek rumah kaca adalah belerang dioksida, nitrogen monoksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2) serta beberapa senyawa organik seperti gas metana dan klorofluorokarbon (CFC). Gas-gas tersebut memegang peranan penting dalam meningkatkan efek rumah kaca.

Dampak lain dari gejala rumah kaca
Meningkatnya suhu permukaan bumi akan mengakibatkan adanya perubahan iklim yang sangat ekstrem di bumi. Hal ini dapat mengakibatkan terganggunya hutan dan ekosistem lainnya, sehingga mengurangi kemampuannya untuk menyerap karbon dioksida di atmosfer. Pemanasan global mengakibatkan mencairnya gunung-gunung es di daerah kutub yang dapat menimbulkan naiknya permukaan air laut. Efek rumah kaca juga akan mengakibatkan meningkatnya suhu air laut sehingga berakibat kepada beberapa pulau kecil tenggelam di negara kepulauan , yang membawa dampak perubahan yang sangat besar.
Menurut perhitungan simulasi, efek rumah kaca telah meningkatkan suhu rata-rata bumi 1-5 °C. Bila kecenderungan peningkatan gas rumah kaca tetap seperti sekarang akan menyebabkan peningkatan pemanasan global antara 1,5-4,5 °C sekitar tahun 2030. Dengan meningkatnya konsentrasi gas CO2 di atmosfer, maka akan semakin banyak gelombang panas yang dipantulkan dari permukaan bumi diserap atmosfer. Hal ini akan mengakibatkan suhu permukaan bumi menjadi meningkat.
Dengan meningkatnya suhu permukaan bumi maka akan mengakibatkan adanya perubahan iklim yang ekstrem di bumi yaitu yang disebut dengan pemanasan global. Adanya pemanasan global menyebabkan mencairnya gunung-gunung es di daerah kutub sehingga permukaan air laut naik.Suhu air laut juga naik sehingga air laut mengembang menyebabkan  kenaikan permukaan laut yang nantinya akan dapat menenggelamkan pulau-pulau yang ada di dunia.
Selama ini gas yang diduga sebagai penyebab utama pemanasan global adalah karbon dioksida.Tetapi metana dan nitrogen triflorida dikhawatirkan mempercepat pemanasan global. Para pengamat lingkungan mengatakan bahwa kedua gas tersebut menimbulkan efek yang samaseperti karbon dioksida. Dalam beberapa tahun terakhir ini efek kedua gas tersebut semakin meningkat di luar perkiraan.
Gas metan merupakan gas penyumbang pemanasan global kedua setelah karbondioksida, metan ini menyumbang sepertiga dari efek karbondioksida.Hasil peneneliatian menunjukan bahwa pada 2006 terjadinya peningkatan gas metan, jumlah gas metan di udara naik ekitar 28 juta ton pada Juni 2006 hingga Oktober 2007. Sampai saat ini jumlah metan di udara sudah mencapai 5,6 miliar ton. Apabila jumlahnya terus meningkat maka akan memperparah perubahan iklim.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar