Jumat, 20 Februari 2015

hubungan antara Filsafat dan Agama

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR……………………………………………………………......1
DAFTAR ISI…………………………………………………………………….........2
BAB I PENDAHULUAN……………………………………………………….........3
BAB II PEMBAHASAN………………………………………………………..........4
1.      Hubungan antara Filsafat dan Sains…………….......……………….........4
a.       Pengertian Filsafat.......................…………………………………......4
b.      Pengertian Sains.......................................……………………….........4
c.       Perbedaan antara Filsafat dan Sains......................................................5
2.      Watak Agama..............………………………………………………........6
a.       Pengertian Agama..........………………………………………….......6
b.      DasarAgama..…………………………………………….....……......7
c.       Unsur dan Fungsi Agama......................................................................8
3.      Masalah Agama..................………………………………………….........8
a.       Bentuk Keraguan dan Penolakan Terhadap Agama………….............9
1.      Empirisme......................................................................................9
2.      Positivisme.....................................................................................10
3.      Materialisme............................................................................... ..10
4.      Freudianisme................................................................................ 11
b.      Akar Keraguan Terhadap Agama.......................................................11
1.      Naturalisme...................................................................................11
2.      Humanisme dan Eksistensial........................................................12
3.      Problem Kejahatan........................................................................12
4.      Pluralitas Agama...................................................................... ....13
4.      Hubungan Antara Filsafat dan Agama...................................................  .13
1.      Dasar Asumsi Filsafat dan Agama..............................................  13
2.      Persamaan Filsafat dan Agama................................................... .13
3.      Perbedaan Filsafat dan Agama..................................................... 14
BAB III PENUTUP…………………………………………………………….........15
1.      Kesimpulan…………………………………………………………........15
2.      Saran…………………………………………………………….….........15
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………......16



BAB I
PENDAHULUAN
Akal adalah potensi (luar biasa) yang dianugrahkan Allah kepada manusia, karena dengan akalnya manusia memperoleh pengetahuan tentang berbagai hal. Dengan akalnya manusia dapat membedakan mana yang benar mana yang salah, mana yang baik mana yang buruk, mana yang menyelamatkan mana yang menyesatkan, mengetahui rahasia hidup Agama menyangkut kehidupan batin manusia. Oleh karena itu, kesadaran agama dan pengalaman agama seseorang lebih menggambarkan sisi-sisi batin dalam kehidupan yang ada kaitannya dengan sesuatu yang sakral dan dalam dunia. Dari kesadaran agama dan pengalaman ini pula kemudian muncul sikap keagamaan yang ditampilkan seseorang.Sikap keagamaan merupakan suatu keadaan yang ada dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk bertingkah laku sesuai dengan kadar ketaatannya dalam beragama.
Sangat banyak ayat Al-Qur‟an yang memerintahkan manusia menggunakan akalnya untuk berfikir. Memikirkan alam semesta, memikirkan diri sendiri, memikirkan pranata atau lembaga-lembaga sosial, dan sebagainya, dengan tujuan agar perjalanan hidup di dunia dapat ditempuh setepat-tepatnya sesuai dengan kedudukan manusia sebagai mahluk ciptaan Allah yang akan kembali kepada-Nya serta memetik hasil tanaman amal perbuatannya sendiri di dunia baik sebagai abdi maupun sebagai khalifah-nya di bumi.
Beberapa contoh ayat Al-Qur‟an yang memerintahkan manusia berfikir tentang alam, diri sendiri, umat terdahulu dan pranata (lembaga) sosial, dikemukakan berikut ini.
Artinya :“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal” (Q.S. Ali-Imran : 190).
Perkembangan jiwa beragama selalu menghadapi problema. Problema ini bersumber dari faktor interen atau eksteren yang dihadapi tiap individu. Faktor interen mencakup sifat-sifat keturunan, watak dan hal-hal yang bersifat diferensiasi individu. Faktor-faktor eksteren mencakup: pendidikan, nilai-nilai budaya, lingkungan tempat tinggal dan lain-lain.dan kehidupan dan seterusnya.
 Kemampuan seseorang untuk mengenali atau memahami nilai agama yang terletak pada nilai-nilai luhurnya serta menjadikan nilai-nilai bersikap dan bertingkah laku merupakan ciri-ciri dari kematangan beragama, jadi kematangan beragama terlihat dari kemampuan seseorang untuk memahami, menghayati, serta mengaplikasikan nilai-nilai luhur agama yang dianutnya dalam kehidupan sehari-hari.







BAB II

PEMBAHASAN


1. HUBUNGAN FILSAFAT DAN SAINS

a. Apa filsafat itu?

Ada banyak hal untuk dipikirkan terus-menerus dan filsafat dalam situasi seperti ini sangat didefinisikan sebagai seni berfikir terus-menerus tentang segala hal. Atau mungkin filsafat ini bisa diartikan juga kebiasaan untuk mencoba berfikir segala sesuatu sampai keakar-akarnya.
Filsafat mengakibatkan berpikir secara logis tentang (the subject in hand) berbagai persoalan pokok yang dikuasai, baik secara sistematis maupun secara terus menerus kita harus mendefinisikannya secara hati-hati istilah-istilah yang telah digunakan atau selama ini kita gunakan sendiri seraya menguji makna dan implikasi dari istilah-istilah tersebut.
Filsafat juga merupakan kebebasan berfikir manusia terhadap segala sesuatu tanpa batas dengan mengacu pada hukum keraguan atas segala hal. Segala hal dilihat dari berbagai sudut melalui kontemplasi pemikiran yang sistematis logis dan radikal.

b. Apa sains itu?

Kata science berasal dari kata latin yang digunakan untuk merujuk pada konsep pengetahuan, kata ini diturunkan dari kata, scio, scire, science adalah pengetahuan. Ada beberapa jenis pengetahuan yang masing-masing berbeda. Pengetahuan ilmiah yang kita maksudkan adalah pasti, eksak, seksama dan terorganisir secara lengkap. Pengetahuan semacam ini disebut juga dengan pengetahuan yang sunguguh-sungguh nyata (real knowledge) dan tentu saja terorganisir dengan baik.
Sains adalah sejenis penjelasan tentang suatu hal yang mengungkap berbagai kondisi (sebab-musabab) yang terjadi didalamnya. Sains juga merupakan sejenis penjelasan tentang suatu hal yang mengungkapkan contoh suatu hukum atau keseragaman umum. Hal ini juga msih benar, seandainya kita mengatakan bahwa usaha sungguh-sungguh sains bukan penjelasan terakhir tentang berbagai hal, tetapi sains hanya menganalisis dan mengklarifikasikan hukum-hukum tersebut dan menentukan berbagai kondisi yang terjadi, kemudian merumuskan atau memformulasikan cara-cara mereka bertingkah laku.

c. Tujuan Filsafat dan Sains

Pada akhirnya kita memang melihat adanya sebuah hubungan antara filsafat dengan sains. Mereka memiliki spirit dan tujuan yang sama yaitu jujur dan mencari kebenaran. Dalam pencarian kebenaran ini sais menentuka dalam dirinya sendiri tugas khas tertentu dan tugas ini memerlukan batas-batas tertentu. Tetapi penyelidikan ean pikiran manusia yang selalu inig tahu, melukai batas-batas ini dan menuntut perembesan terhedap wilayah yang berada di balik bidang sains, dengan demikian lalu filsafat muncul.




d. Perbedaan antara Filsafat dan Sains

Henderso berpendapat tentang perbedan antara filsafat dan ilmu pengetahuan atau sains, seperti di bawah ini:

A.    ILMU PENGETAHUAN
·      Sebenarnya adalah anak dari fisafat
·      Analisis, menguji semua fenomena dengan teliti
·      Terkonsentrasi dengan hal yang fakta
·      Dimulai dengan asumsi

B. FILSAFAT
1.      Ibu dari pengetahuan
2.      Synoptic, views the world and even the universe
3.      Concerned not only with things as they are but also with the way they ought to be human desires and human values
4.      Menguji dan menanyakan asumsi
5.      Menggunakan semua penemuan berdasarkan ilmu
Apabila permasalahan diatas merupakan perumusan permasalahan yang tepat dan benar dan baik, maka mana yang lebih penting, induknya atau kan anaknya, yang dulu lebih penting dari yang kemudian, sebab lebih penting dari akibatnya, beberapa pertanyaan permasalahan yang tidak mudah di jawab, atau pertayaan yang dijawabnya masih sangat terbuka sekali, maka kita menjelaskan bahwa sesungguhnya kedudukan filsafat sains dalam sistematika filsafat lebih dekat kepada tema besar filsafat yang kedua yaitu epistemology.  Bahkan keduanya saling terkait dan tidak dapat dipisahkan begitu saja. Hanyan saja untuk memudahkan pengindetifiksian, kajian epistemologi lebih dimaknai dan ditujukan sebagai pengkajian teoritis tentang pengetahuan sebelum pengetahuan itu sendiri berkembang sebagai sains pada abad ke-17 atau setidaknya kajian tersebut barada diluar sains, berdasarkan peredaan metode objek yang dikaji tentunya.
Perkembangan sains ilmiah dan pencapaian spektakulernya di era modern, menjadikannya begitu dipuja dan diyakini mampu mengatasi berbagai persoalan. Manusia modern telah menjadikannya sebagai basis cara pandang (world view) dan tafsiran atas realitas. Metode dan nilai praktisnya seperti telah menggeser posisi filsafat sebagai sandaran manusia untuk mengenal realitas. Walaupun faktanya, sains tidak terlepas dan selalu butuh pada hasil-hasil kerja filsafat, namun askelerasi perkembangan dan pencapaiannya demikian praktis dan cepat.

Berbeda dengan sains, filsafat begitu sukar untuk menjadi konsumsi umum, bahkan dikalangan elit intelektual abad ini. Disamping berbagai kesulitan dan ketidakpraktisannya dalam menjelaskan segala sesuatu, ia juga dirasakan tidak berhubugan langsung dengan kehidupan praktis. Kondisi ini sangat dipengaruhi oleh paradigma sains yang menguasai masyarakat modern. Manusia terus diarahkan untuk fokus dan bahkan memuja sesuatu yang bersifat praktis dan positifistik.
Sains, ketika secara ontologis disetarakan dengan pengetahuan dalam artian umumnya, maka ia mendudukkan posisinya secara konfrontatif dengan filsafat. Karena filsafat meliputi berbagai aspek eksistensi, baik dari sisi materi maupun nonmateri. Ia juga hanya bersandar pada bukti-bukti dan argumentasi rasional. Dari perbedaan ini, tidak ada ruang bagi sains untuk menerima filsafat dalam status ontologis pengetahuan. Ketegangan ini menciptakan dikotomi yang ekstrim dan berakibat pada saling menumbangkan. Masing-masing darinya merebut posisi untuk diakui sebagai pengetahuan yang otoritatif dalam menggambarkan, berhubungan, dan memperlakukan realitas.
Tinjauan yang lebih adil, hubungan filsafat dan sains tidak mesti konfrontatif. Karena keduanya memiliki kontribusi yang besar dalam membangun peradaban manusia.pada hakikatnya, hubungan sains dan filsafat adalah sejulur dan sinergis. Sains selalu butuh pendasaran dan penegakan azasnya dari filsafat, sedangkan filsafat sendiri juga dipaksa untuk memperluas kajian berdasarkan kebutuhan dari berbagai problema baru yang dihadapi sains. Bagi belahan dunia yang sedang meretas aspek pengetahuan dan mendorong peradaban yang lebih manusiawi, selayaknya memperhatikan hubungan terakhir tersebut sebagai jalan bagi khasanah intelektual yang lebih utuh.
Filsafat meliputi seluruh sains rasional, yaitu berbagai sandaran bukti dan argumentasinya digali dari prinsip-prinsip rasional. Selama ditinjau dari segi rasionalitas – dengan proposisi-proposisi universal berporos tertentu – maka suatu ilmu beralih subjeknya pada perbincangan filosofis. Prinsip-prinsip rasional yang dimaksudkan adalah sandaran-sandaran niscaya bagi akal untuk membangun setiap premis dan penarikan kesimpulan.
Penggunaaan metode penalaran yang deduktif (silogistik) sangat khas bagi filsafat, dan ini sering diidentifikasi sebagai perbedaan mendasar dengan sains yang induktif. Secara sederhana dapat diterima, namun pada hakikatnya induksi sains dalam berbagai seginya ditautkan pada deduksi dalam penetapannya. Inilah yang disebut deduksi tersembunyi dalam induksi. Ketika seorang ilmuan hendak menentukan sample-sample yang digunakannya dalam penelitian, maka disadari atau tidak, ia bersandar pada hukum universal bahwa setiap objek yang diteliti mesti sesuai dengan tujuan penelitian itu sendiri
2.WATAK AGAMA
a.      Pengertian Agama
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Agama adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya. Kata "agama" berasal dari bahasa Sanskerta, āgama yang berarti "tradisi". Kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latinreligio dan berakar pada kata kerjare-ligare yang berarti "mengikat kembali". Maksudnya dengan berreligi, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan.
Menurut filologMax Müller, akar kata bahasa Inggris "religion", yang dalam bahasa Latin religio, awalnya digunakan untuk yang berarti hanya "takut akan Tuhan atau dewa-dewa, merenungkan hati-hati tentang hal-hal ilahi, kesalehan" ( kemudian selanjutnya Cicero menurunkan menjadi berarti " ketekunan " ).[11][12] Max Müller menandai banyak budaya lain di seluruh dunia, termasuk Mesir, Persia, dan India, sebagai bagian yang memiliki struktur kekuasaan yang sama pada saat ini dalam sejarah. Apa yang disebut agama kuno hari ini, mereka akan hanya disebut sebagai "hukum".[13]
Agama ialah suatu tata kepercayaan atas adanya  Tuhan di luarmanusia, serta suatu tata kaidah yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan alam yang lain agar tidak kacau.
Pengertian agama menunjuk kepada jalan atau cara yang ditempuh untuk mencari rahmat dan kasih Tuhan. Dalam agama itu ada sesuatu yang dianggap berkuasa, yaitu Tuhan, zat yang memiliki segala yang ada, yang berkuasa, yang mengatur seluruh alam beserta isinya. Asal dari segala sesuatu. Pengasal yang tidak berasal. Penggerak yang tidak digerakkan.
Agama bisa dibedakan antara agama wahyu dan agama bukan wahyu. Agama wahyu biasanya berpijak pada keesaan Tuhan, ada nabi yang bertugas menyampaikan ajaran kepada manusia dan ada kitab suci yang dijadikan rujukan dan tuntunan tentang baik dan buruk. Sedangkan pada agama yang bukan wahyu tidak membicarakan tentang keesaan Tuhan, dan tidak ada nabi.
b.      Dasar Agama
Agama adalah sebuah koleksi terorganisir dari kepercayaan, sistem budaya, dan pandangan dunia yang menghubungkan manusia dengan tatanan/perintah dari kehidupan.Banyak agama memiliki narasi, simbol, dan sejarah suci yang dimaksudkan untuk menjelaskan makna hidup dan / atau menjelaskan asal usul kehidupan atau alam semesta. Dari keyakinan mereka tentang kosmos dan sifat manusia, orang memperoleh moralitas, etika, hukum agama atau gaya hidup yang disukai. Menurut beberapa perkiraan, ada sekitar 4.200 agama di dunia.
Banyak agama yang mungkin telah mengorganisir perilaku, kependetaan, definisi tentang apa yang merupakan kepatuhan atau keanggotaan, tempat-tempat suci, dan kitab suci. Praktek agama juga dapat mencakup ritual, khotbah, peringatan atau pemujaan tuhan, dewa atau dewi, pengorbanan, festival, pesta, trance, inisiasi, jasa penguburan, layanan pernikahan, meditasi, doa, musik, seni, tari, masyarakat layanan atau aspek lain dari budaya manusia. Agama juga mungkin mengandung mitologi.
Agama sebagai seperangkat aturan dan peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan dunia gaib, khususnya dengan Tuhannya, mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya, dan mengatur hubungan manusia dengan lingkungannya. Secara khusus, agama didefinisikan sebagai suatu sistem keyakinan yang dianut dan tindakan-tindakan yang diwujudkan oleh suatu kelompok atau masyarakat dalam menginterpretasi dan memberi tanggapan terhadap apa yang dirasakan dan diyakini sebagai yang gaib dan suci. Bagi para penganutnya, agama berisikan ajaran-ajaran mengenai kebenaran tertinggi dan mutlak tentang eksistensi manusia dan petunjuk-petunjuk untuk hidup selamat di dunia dan di akhirat. Karena itu pula agama dapat menjadi bagian dan inti dari sistem-sistem nilai yang ada dalam kebudayaan dari masyarakat yang bersangkutan, dan menjadi pendorong serta pengontrol bagi tindakan-tindakan para anggota masyarakat tersebut untuk tetap berjalan sesuai dengan nilai-nilai kebudayaan dan ajaran-ajaran agamanya.
c.       Unsur-unsur Agama dan Fungsi Agama

1.      Unsur-unsur Agama
  • Kepercayaan agama, yakni suatu prinsip yang dianggap benar tanpa ada keraguan lagi
  • Simbol agama, yakni identitas agama yang dianut umatnya.
  • Praktik keagamaan, yakni hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan-Nya, dan hubungan horizontal atau hubungan antarumat beragama sesuai dengan ajaran agama
  • Pengalaman keagamaan, yakni berbagai bentuk pengalaman keagamaan yang dialami oleh penganut-penganut secara pribadi.
  • Umat beragama, yakni penganut masing-masing agama
2.         Fungsi Agama
  • Sumber pedoman hidup bagi individu maupun kelompok
  • Mengatur tata cara hubungan manusia dengan Tuhan dan manusia dengan manusia.
  • Merupakan tuntutan tentang prinsip benar atau salah
  • Pedoman mengungkapkan rasa kebersamaan
  • Pedoman perasaan keyakinan
  • Pedoman keberadaan
  • Pengungkapan estetika (keindahan)
  • Pedoman rekreasi dan hiburan
  • Memberikan identitas kepada manusia sebagai umat dari suatu agama.
3. MASALAH AGAMA
Disamping menguraikan alternatif-alternatif dalam masalah hubungan tuhan dan manusia filsafat agama juga mengungkapkan problem-problem yang cukup dilematis, seperti hubungan kehendak mutlak Tuhan dengan kebebasan manusia dan Tuhan personal dengan Tuhan yang imporsenal. Masalah seperti ini telah dibahas oleh para pemikir agama dari berbagai sudut pandang. Namun penyelesaian yang maksimal dan tuntas tentang masal tersebut belum tercapai dan memuaskan semua pihak. Karena itu penyelesaian dan kepuasan para penganut agama sangat tergntung pada eluasan pengetahuannya dan keinginan untuk mencari yang lebih memuaskan. Minimal agar penganut agama itu tidak statis, tetapi selalu kreatif dan mengadakan dialog untuk mencari jalan keluar yang terbaik.
Berdasarkan penjelasan di atas, penulis dapat mengambil suatu rumusan yang menjadi pokok permasalahan dalam makalah ini, yakni tentang  ”hubungan filsafat dan agama” dari rumusan masalah di atas, kemudian dapat dituangkan lagi ke dalam beberapa batasan masalah sebagai berikut:
1. Bentuk Keraguan dan Penolakan Terhadap Agama
Beberapa bentuk keraguan pada Tuhan dan penolakan terhadapa agama antara lain:
a.Empirisme
David Hume adalah toko filsafat Barat yang mengembangkan filsafat empirisme Lokcke dan Barkley secara konsekuen. Problematika epistemologi ia tulis dalam buku An Enquiry Concerning Human Understanding dan  A Treatise of Human Nature. Menurut David Hume, manusia tidak membawa pengetahuan bawaan dalam hidupnya. Sumber pengetahuan adalah pengamatan, pengamatan memberi dua hai yaiut kesan-kesan (imperessons) dan pengertian-pengertian atau idea-idea (ideas) yang dimaksud dengan kesan-kesan adalah pengamatan langsung yang diterima dari pengalaman, baik pengalaman lahiriah maupun batiniah, yang menampakkan diri dengan jelas, hidup dan kuat seperti merasakan yang terbakar. Sedangkan ide adalah gambaran tentang pengamatan yang redup, samar-samar, yang dihasilkan dengan merenungkan kemabali atau terefleksikan dala kesadaran kesan-kesan yang diterima dari pengalaman.
Pernyataan Hume tentang teori kuasalitas ini sangat berpengaruh bagi perkembangan pemikiran filsafat dan keagamaan di Barat. Dengan penolakan terhadap teori kuasalitas, Hume menghujat argumen ontologis dan kosmologis tentang keberadaan Tuhan dan sekaligus membatasi kemampuan akal. Munculnya positivisme yang dipelopori oleh August Comte diwarnai oleh ide Hume, bahkan materialisme bisa dikatakan sebagai puncak dari empirisme. Para filosof sebelum Hume percaya bahwa alam adalah akibat dan Tuhan adalah sebab alam. Menurut kategori logika keberadaan sebab lebih wajib dibandingkan keberadaan akibat dan sebab lebih dahulu ketimbang akibat. Karena itu Tuhan sebagai sebab wajib ada dan mendahuli alam, sedangkan alam sebagai akibat mungkin adanya dan setelah tuhan. Argumen ini yang dipakai oleh para filosof dimasa Hume.
Menurut Hume, ketika kita percaya kepada tuhan sebagai pengatur alam ini, kita berhdapan dengan dilema. Ia berkomenar bahwa tidak ada bukti yang dapa dipakai untuk membuktikan bahwa Allah itu ada dan bahwa Ia menyelenggarakan dunia. Juda tidak ada bukti bahwa Allah tidak mati. Dalam praktek orang-orang yang beragama selalu mengikuti “kepercayaan”, yang dianggap pasti, sedangkan akal tidak bisa membuktikanya. Menurutnya banyak sekali keyainan agama yang merupakan hasil khayalan, tidak berlaku umum dan tidak berguna bagi hidup. Akan tetapi Agama berasal dari penghargaan dan ketakutan manusia terhadap tujuan hidupnya itulah yang menyebabkan manusia mengangkat berbagai dewa untuk di sembah. Mukjizat adalah ajaran agama yang juga diserang oleh Hume, dia memberikan lima alasan untuk menolak mukjizat.
Pertama Hume cenderung mempertentangkan dua bentuk-bentuk teisme yang monopolar dan mengabaikan sintesis dipolar. Dalam hal ini ada dua pola yaitu mistisme dan antropomorpisme. Dalam mitisme Tuhan berada dalam konsepsi yang negatif dan sempurna, sedangkan antropomorpisme Tuhan berada dalam konsepsi positif tetapi tidak sempurna. Tuhan adalah sepurna, abadi, dan wajib ada. Dilain pihak dunia tidak sempurna hanya dapat dijelaskan lewat pendekatan dipolar, bukan monopolar sebagaimana yang dikemukakan Hume. Kesempurnaan Tuhan dapat digambarkan dari ketidak sempurnaan dunia. Seandainya dunia tidak ada atau ada, tetapi sempurnah maka kesempurnaan Tuhan akan sulit diidentifikasi. Kritikan Hume hanya terbatas pada aspek empiris saja, yakni Tuhan yang tidak terbatas dalam dunia yang terbatas. Dia tidak melihat lebih jauh tentang dunia yang terbatas tidak mungkin menciptakan dirinya sendiri.
Kedua Hume mengabaikan peranan akal dalam menangkap realitas. Padahal akal mampu menghubungkan kejadian-kejadian yang lampau dengan kejadian yang sekarang dan bahkan meramalkan sesuatu yang akan datang. Akal juga mampu memberikan ide-ide umum tetang fakta-fakta yang beragam. Daya akal yang semakin kuat tidak membutuhkan fakta dan data lagi. Akal yang demikian mampu mencapai wujud yang tidak bermateri, yaitu Tuhan. Jadi Tuhan secara apriori mampu ijelaskan oleh kekuatan akal. Dengan demikian kesimpulan Hume tentang kemampuan akal terkesan sangat dangkal dan tergesa-gesa.
Ketiga Hume terlalu meredusir semua realitas dalam kajian empiris, sehingga dia terjerumus pada determinisme empiris. Skeptisisme Hume terhadap agama juga berdasarkan atas determinismenya yang kaku ini. Alam empiris terwujud dari dua hal yang saling bergantian yaitu kebaikan dan kejahatan. Kalau Tuhan baik, demkian Hume, kenapa Dia tidak menghilangkan kejahatan? Untuk masalah ini dapat dijawab bahwa kejahatan adalah bagian dari dunia yang tidak sempurnah.
 b.Positivisme
Positivisme adalah kelanjutan dari empirisme, jika empirisme menitiktekankan pada pengalaman saja dan merendahkam fungsi akal, positivisme menggabungkan keduannya. Bagi posotivisme pengalaman perlu untuk mengumpulakan data sebanayak mungkin agar akal mendapat hukum yang bersifat unversal. Positivisme kata asalnya adalah “positif” berarti yang diketahui, yang faktual, dan yang positif. Segala uraian yang diluar fakta atau kenyataan dikesampingkan. Oleh karena itu metafisik ditolak. Apa yang diketahui secara positif adalah segala yang tampak dan yang dapat diukur. Dengan demikian positivisme membatasi filsafat dan ilmu pada bidang gejala-gejala saja. Positivisme memandang agama sebagai gejala peradaban manusia yang primitif. Positivis membatasi dunia pada hal-hal yang bisa dilihat, yang bisa diukur, dianalisis, dan bisa dibuktikan kebenarannya. Karena agama ─ maksudnya Tuhan ─ tidak bisa dilihat, diukur, dianalisis, dan dibuktikan, maka Agama tidak mempunyai arti.
Alfred Yules Ayer, sala seorang filosof yang penganut positivisme berkata, “Argumen tentang pengalaman keagamaan adalah tidak benar. Bahwa banyak orang mempunyai pengalaman keagamaan adalah suatu yang menarik perhatian dari sudut psikologi, tetapi tidak berarti memang ada pengetahuan keagamaan yang objektif.  Orang yang percaya kepada Allah dan orang yang memegang paham-paham moral mungkin percaya bahwa pengalamanya merupakan pengalaman yang berdasarkan pada pengetahuan.
 c. Materialisme
Bibit materialisme bisa ditelusuri dari ajaran demokritos tentang atom. Sebagaimana para filosof alam zaman Yunani kuno, mengatakan bahwa alam terdiri dari atom-atom yang tidak terbatas jumlahnya. Tujuan utama dari atom bukan untuk menjelaskan kenapa alam muncul, tetapi bagaimana alam bisa dimengerti dan diuraikan. Karena itu atomis mengatakan bahwa atom bergerak dalam ruang yang kosong. Apabila tersusun maka terjadilah benda apabila berpisah maka hancurlah benda itu. Wujud yang hakiki menurut pandangan atomis adalah alam materi. Feuerbach mengkritik agama kristen lewat pendekatan psikologis dalam karyanya Das Wesen des Christentums (hakikat agama kristen) menurutnya agama muncul dri hakikat manusia. Karena itu Ia berpendapat tugas filsafat adalah mengembalikan bagian terbesar dari diri manusia yang telah diasingkan oleh agama. Selanjutnya filsafat harus membuktikan bahwa perbedaan antara hal yang mansuiawi dan yang kudus adalah bersifat khayal.
Feuerbach mengakui bahwa agama merupakan sala satu dari kategori-kategori fundamental jiwa manusia, namun kekuasaan Tuhan atau Dewa tidak berlangsung lama. Dia mengatakan bahwa bila kekudusan alam merupakan dasar dari agama, maka kekudusan manusia harus merupakan tujuan akhir. Titik tolak yang penting dalam sejarah adalah bila mansuia telah menjadi dasar satu-satunya Tuhan bagi mansuia adalah diriny sendiri. Sedangkan menurut Karl Marx agama adalah hasil dari proyeksi pikiran dan keinginan manusia. Gagasan tentang agama adalah hasil suau bentuk masyarakat tertentu. Menurutnya agama bagian dari kelas buruh yang menderita, mereka tidak mampu meawan struktur kelas yang begitu kuat hingga mereka mencari kekuatan ‘supernatural’ untuk menolong mereka. Dalam tuisannya ‘dasar dari kritik antireligius adalah bahwa manusiala yang menciptakan agama dan bukan agama yang menciptakan manusia.
 d.Freudianisme
Freudianisme digunakan dalam tulisan ini untuk menunjukkan pemikiran Sigmund Freud yang berpengaruh pada agama, terutama tujuannnya dari aspek psikologis. Menurutnya kepercayaan keagamaan yang objektif itu tidak ada dasarnya sebab kepercayaan tersebut dapat diterangkan dari segi psikologi. Hal-hal merupakan dogma dalam agama bukan hasil pengalaman atau pemikiran , tetapi hasil ilusi yaiu realisasi dari kemauan manusia yang tertua, terkuat, dan paling mendorong. Menurutnya mansuia pada awalnya merasa aman dikandung ibunya, setelah dia lahir mulailah merasa kenyamanan tadi hilang hingga dia mulai terasing dan terpisah dari dunianya. Dari sinilah muncul keinginan dalam dirinya untuk hidup nyaman dan  ketidak berdayaan untuk kembali pada dunia yang nyaman tersebut timbullah kebimbangan. Kebimbangan ini mencari tempat yang aman, yaitu Agama. Agamala yang memberi alternatif untuk itu. Artinya orang yang beragama sama dengan orang yang putus asa. Jadi Tuhan muncul karena kekecewaan dan ketidak berdayaan hal ini menurut Freud adalah gejala sakit jiwa. Dari penjelasan-Nya ada beberapa yang perlu dikoreksi pertama Dia menganalogikan Tuhan sebagai pencipta alam dengan bapak dan ibu sebagai pencipta seorang anak, kedua wawasannya tentang Tuhan hanya terbatas pada agama kristen, ketiga kesalahan jika dia mengira Tuhan zat yang diinginkan manusia adanya, terakhir dia mengkritik orang yang baragama karena agama menyebabkan gangguan jiwa.
2. Akar Keraguan Terhadap Agama
 a. Naturalisme
Salah satu problem yang dihadapi oleh manusia modern terutama para ilmuwan adalah apakah agama bisa sejalan dengan teori-teori ilmiah? Sebab ilmu menekankan pembahasannya pada alam fisik sedangkan agama membahas supernatur. Dasar intelektual ilmu sudah dirintis sejak zaman filsafat Yunani, mengatakan bahwa alam berjalan menurut hukum-hukum yang tetap dan sistem yang sama. Ilmu mempunyai konsep yang sama tentang alam, agamapun mempunyai doktrin-doktrin yang mutlak tentang supernatur. Mukjizat dan do’a adalah ajaran agama yang tidak boleh dibantah lagi. Ibn Rusyd, filosof muslim dari Andalusia berpendapat bahwa untuk menghilangkan keraguan kaum naturalis terhadap agama, maka pengertian mukjizat perlu diperluas. Selama ini Ibn Rusyd hanya terfokus pada hal-hal yang supernatural.
b.      humanisme dan eksistensialisme
Istilah humanisme  berasal dari humanitas (pendidikan manusia). Dalam bahasa Yunani disebut paidea. Pada pertengahan abad ke14 adalah gerakan filsafat yang timbul di Italia dan kemudia berkembang diseluruh Eropa. Humanisme menegaskan bahwa manusia adalah ukuran segala sesuatu, kebesaran manusia harus dihidupkan kembali yang selama ini terkubur pada abad tengah. Karenanya warisan filsafat klasik harus dihidupkan kebebasan manusia adalah sala satu pokok humanisme. Pico sala satu toko humanisme berkata “manusia dianugrahi kebebasan memilih ileh Tuhan dan menjadikannya pusat perhatian dunia. Sedangkan Valla menolk superioritas agama atas manusia, menurutnya manusia berhak menjadi dirinya dan sekaligus menentukan nasibnya tujuan manusia adalah bersenang-senang.
Humanisme pada awalnya tidak anti agama, tetapi hanya ingin peranan institusi gereja dan kerajaan yang begitu besar hingga manusia sebagai mahkluk Tuhan kehilangan kebebasannya. Humanisme pada abad 19-20 bertujuan meningkatkan perkembangan yang harmonis dari sifat-sifat dan kecakapan alamiah manusia, mereka berpendapat tanpa wahyupun manusia mampu berkarya dengan baik dan sempurnah. Kemudian beberapa abad kemudian baru muncul gerakan humanisme yang melepaskan segala yang berkaitan dengan Tuhan dan Akhirat dan hanya menerima dunia apa adanya.
Menurut tokoh eksistensialisme J.P. Sartre abad 20, mengatakan dia kehilangan kepercayaan ketika berumur 11 tahun. Tuhan tidak merupakan hal yang sangat jelas bagi dia, sehingga dia menganggap sama sekali tidak ada gunanya untuk menyelidiki dan membuktikan keslahan argumen dan eksistensi Tuhan. Dia menganggap Tuhan hanya merupakan proyeksi dari jiwa manusia, menurutnya seandainya Tuhan ada manusia sma sekali tidak berarti, seandainya manuisa ada sebagai pelindung, paling sempurna dari tatanan nilai-nilai moral dan raional yang mapan, Tuhan harus ditolak atas nama kemerdekaan alasanya manusa tidak akan menjadi bebas bila ada satu tatanan yang absolut dan universal.
c.       Problem Kejahatan
Adanya kejahatan dijagad raya merupakan problem yang tidak henti-hentinta diperdebatkan, terutama oleh agamawan dan ilmuwan. Problem yang mendasar terutama bagi teisme adalah kenapa kejatan itu ada, padahal Tuhan pencipta, maha kuasa dan sumber kebaikan. Timbul dalam suatu pertentangan dalam diri Tuhan yaitu Tuhan sebagai sumber kebaikan sekaligus sumber kejahatan. Kenyataan tersebut tidak benar-benar logika. Salah satu susunan argumen ateisme menolak teisme  adalah sebagai berikut:
a)      Jika Tuhan maha baik, tentu Dia akan membasmi kejahatan.
b)      Jika Tuhan maha kuasa, Dia mampu menghancurkan kejahatan
c)      Tetapi kejahatan belum terhapus
d)     Karena itu, Tuhan tidak ada
Para ahli agama dan filosof berusaha mencari jawaban yang dapat memuaskan dan menyelesaikan problematika kejhatan, ada beberapa alternatif yang dikemukakan oleh agamawan dan fiofof tentang kejahatan:
1)       Kekuasaan mutlak Tuhan harus bersyrat. Tuhan tidak berkuasa menciptakan sesuatu yang bertentangan dengan dirinya
2)      Kejahatan adalah bagian yang tidak bisa terlepas dari kebaikan yang tinggi
3)      Setiap kejahatan adalah kutukan bagi manusia yang berdosa
4)      Keyakinan tentang segala sesuatu yang terjadi tidak lepas dari hikmah Tuhan, karena keterbatasan manusia tidak mampu mengetahui semua hikmah yang ada
c.Pluralitas Agama
Pluralitas agama merupakan problem yang cukup rumit. Agama disatu sisi menekankan kebenaran yang absolut, tetapi disisi lain jumlah agama itu banyak. Setiap agama mengaku ajarannyalah yang paling benar, karena itu timbul tanda tanya mana agama yang paling benar dari sekian agama yang ada? Apakah semua agama itu benar, atau semuanya tidak benar. Kalau ada agama yang paling benar dari sekian agama, maka bagaimana mengetahui agama yang paling benar tersebut? Pernyataan semacam ini sering diajukan tidak saja dari kaum tesis tapi kaum intelektual yang percaya kepada Tuhan.Al-Razi, seorang fiosof yang percaya kepada Tuhan menolak agama-agama yang ada karena setiap agama mempropagandakan kebenarannya sendiri dan para penganut agama merekalah yang paling benar. Menurutnya akal mampu mengetahui yang baik dan yang buruk tanpa prtolongan wahyu dan nabi. Dengan akal seseorang mampu mengetahui Tuhan. Menurutnya tak ada keistmewaan seseorang untuk mendapat wahyu sebab semua manusia dilahirkan sama, perbedaan kemudian bukan karena pembawaan, tetapi larena pendidikan dan kemampuannya.
5           HUBUNGAN ANTARA FILSAFAT DAN AGAMA
a.      Dasar Asumsi
Ada beberapa asumsi berkaitan dengan jalinan filsafat dengan agama. Asumsi itu didasarkan pada anggapan manusia sebagai makhluk budaya.
·         Asumsi pertama, sebagai makhluk budaya manusia mampu berspekulasi dan berteori filsafat yang akan menentukan kebudayaannya, bahkan sampai sadar dan jujur mengakui kenyataan Tuhan dan ajaran agama.
·         Asumsi kedua dinyatakan oleh Dewey dengan pikiran meliorisme-nya. Maksud pemikirannya adalah: dunia ini diciptakan oleh Tuhan sebagai suatu potensi yang dapat diperbaiki, diperindah dan diperkaya, sehingga hidup dan penghidupan ini bisa lebih ditingkatkan nilai harganya untuk dihidupi dan dinikmati.

b.      Persamaan Filsafat dan Agama

Baik ilmu, filsafat, maupun agama bertujuan sekurang-kurangnya sama-sama mencari kebenaran. Ilmu pengetahuan dengan metodenya sendiri, mencari kebenaran tentang alam, termasuk tentang manusia. Filsafat dengan wataknya sendiri pula, menghampiri kebenaran, baik tentang alam maupun tentang manusia ataupun tentang Tuhan, yang belum atau tidak dapat dijawab oleh ilmu, karena di luar atau di atas jangkauannya. Agama dengan karakteristiknya sendiri pula memberikan jawaban atas segala persoalan mendasar yang dipertanyakan manusia, baik tentang alam, tentang manusia maupun tentang Tuhan.

c.       Perbedaan Filsafat dan Agama

Baik ilmu maupun filsafat, keduanya merupakan hasil dari akal budi atau rasio manusia. Sedangkan agama bersumberkan dari wahyu Allah.Ilmu pengetahuan mencari kebenaran dengan jalan penyelidikan (riset), pengalaman (empiris), dan percobaan (eksperimen) sebagai batu ujian. Filsafat menghampiri kebenaran dengan cara menulangkan (mengembarakan atau mengelanakan) akal budi secara radikal (mengakar), integral (menyeluruh) dan universal (alami atau mengalam) tidak merasa terikat oleh ikatan apapun, kecuali oleh ikatan tangannya sendiri bernama logika. Filsafat itu ialah rekaman petualangan jiwa dalam kosmos.Manusia mencari dan menemukan kebenaran dengan dan dalam agama dengan jalan mempertanyakan (mencari jawaban tentang) pelbagai masalah asasi dari atau kepada kitab suci, kodifikasi firman ilahi untuk manusia di atas planet bumi ini.
Kebenaran filsafat adalah kebenaran spekulatif (dugaan yang tak dapat dibuktikan secara empiris, riset, dan eksperimen). Baik kebenaran ilmu maupun kebenaran filsafat, keduanya nisbi (relatif). Sedangkankebenaran agama bersifat mutlak (absolut), karena agama adalah wahyu yang diturunkan oleh yang Maha Benar, Maha Mutlak, dan Maha Sempurna. Baik ilmu maupun filsafat, keduanya berangkat dari sikap sangsi atau tidak percaya. Sedangkan agama mulai dengan sikap percaya atau beriman.











BAB III
PENUTUP
1.      Kesimpulan

Secara ringkas bisa dijelaskan hubungan agama dengan filsafat sebagai berikut:
1)      agama adalah unsur mutlak dan sumber kebudayaan, sedangkan filsafat adalah salah satu unsur kebudayaan.
2)      agama adalah ciptanya Tuhan, sedangkan filsafat hasil spekulasi manusia.
3)      agama adalah sumber-sumber asumsi dari filsafat dan ilmu pengetahuan (science), dengan filsafat menguji asumsi-asumsi science.
4)      agama mendahulukan kepercayaan daripada pemikiran, sedangkan filsafat mempercayakan sepenuhnya kekuatan daya pemikiran.
5)      agama mempercayai akan adanya kebenaran dan kenyataan dogma-dogma agama, sedangkan filsafat tidak mengakui dogma-dogma sebagai kenyataan tentang kebenaran.
Dengan memperhatikan spesifikasi dan sifat-sifat di atas, tampak jelas bahwa peran agama terhadap filsafat ialah meluruskan filsafat yang spekulatif kepada kebenaran mutlak yang ada pada agama. Sedangkan peran filsafat terhadap agama ialah membantu keyakinan manusia terhadap kebenaran mutlak itu dengan pemikiran yang kritis dan logis.

2.      Saran


Selain mempelajari sejarah perkembangan filsafat, tak kalah pentingnya jika kita mengetahui hubungan filsafat dengan agama agar kita mengetahui manfaat dan kegunaan filsafat itu sendiri dalam agama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar