DAFTAR
ISI
KATA
PENGANTAR……………………………………………………………......1
DAFTAR ISI…………………………………………………………………….........2
BAB I PENDAHULUAN……………………………………………………….........3
BAB II PEMBAHASAN………………………………………………………..........4
1.
Hubungan
antara Filsafat dan Sains…………….......……………….........4
a.
Pengertian
Filsafat.......................…………………………………......4
b.
Pengertian
Sains.......................................……………………….........4
c.
Perbedaan
antara Filsafat dan Sains......................................................5
2.
Watak
Agama..............………………………………………………........6
a.
Pengertian
Agama..........………………………………………….......6
b.
DasarAgama..…………………………………………….....……......7
c.
Unsur dan
Fungsi Agama......................................................................8
3.
Masalah
Agama..................………………………………………….........8
a. Bentuk Keraguan dan Penolakan Terhadap Agama………….............9
1. Empirisme......................................................................................9
2. Positivisme.....................................................................................10
3. Materialisme...............................................................................
..10
4. Freudianisme................................................................................
11
b. Akar Keraguan Terhadap Agama.......................................................11
1. Naturalisme...................................................................................11
2. Humanisme dan Eksistensial........................................................12
3. Problem Kejahatan........................................................................12
4. Pluralitas Agama......................................................................
....13
4.
Hubungan
Antara Filsafat dan Agama................................................... .13
1.
Dasar
Asumsi Filsafat dan Agama.............................................. 13
2.
Persamaan
Filsafat dan Agama................................................... .13
3.
Perbedaan
Filsafat dan Agama..................................................... 14
BAB III PENUTUP…………………………………………………………….........15
1.
Kesimpulan…………………………………………………………........15
2.
Saran…………………………………………………………….….........15
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………......16
BAB I
PENDAHULUAN
Akal adalah potensi (luar biasa) yang dianugrahkan Allah kepada
manusia, karena dengan akalnya manusia memperoleh pengetahuan tentang berbagai
hal. Dengan akalnya manusia dapat membedakan mana yang benar mana yang salah,
mana yang baik mana yang buruk, mana yang menyelamatkan mana yang menyesatkan,
mengetahui rahasia hidup Agama menyangkut kehidupan batin manusia. Oleh karena
itu, kesadaran agama dan pengalaman agama seseorang lebih menggambarkan
sisi-sisi batin dalam kehidupan yang ada kaitannya dengan sesuatu yang sakral
dan dalam dunia. Dari kesadaran agama dan pengalaman ini pula kemudian muncul
sikap keagamaan yang ditampilkan seseorang.Sikap keagamaan merupakan suatu
keadaan yang ada dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk bertingkah laku
sesuai dengan kadar ketaatannya dalam beragama.
Sangat banyak ayat Al-Qur‟an yang memerintahkan manusia menggunakan
akalnya untuk berfikir. Memikirkan alam semesta, memikirkan diri sendiri,
memikirkan pranata atau lembaga-lembaga sosial, dan sebagainya, dengan tujuan
agar perjalanan hidup di dunia dapat ditempuh setepat-tepatnya sesuai dengan
kedudukan manusia sebagai mahluk ciptaan Allah yang akan kembali kepada-Nya
serta memetik hasil tanaman amal perbuatannya sendiri di dunia baik sebagai
abdi maupun sebagai khalifah-nya di bumi.
Beberapa contoh ayat Al-Qur‟an yang memerintahkan manusia berfikir
tentang alam, diri sendiri, umat terdahulu dan pranata (lembaga) sosial,
dikemukakan berikut ini.
Artinya :“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih
bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal”
(Q.S. Ali-Imran : 190).
Perkembangan jiwa beragama selalu menghadapi problema. Problema
ini bersumber dari faktor interen atau eksteren yang dihadapi tiap individu.
Faktor interen mencakup sifat-sifat keturunan, watak dan hal-hal yang bersifat
diferensiasi individu. Faktor-faktor eksteren mencakup: pendidikan, nilai-nilai
budaya, lingkungan tempat tinggal dan lain-lain.dan kehidupan dan seterusnya.
Kemampuan seseorang untuk
mengenali atau memahami nilai agama yang terletak pada nilai-nilai luhurnya
serta menjadikan nilai-nilai bersikap dan bertingkah laku merupakan ciri-ciri
dari kematangan beragama, jadi kematangan beragama terlihat dari kemampuan
seseorang untuk memahami, menghayati, serta mengaplikasikan nilai-nilai luhur
agama yang dianutnya dalam kehidupan sehari-hari.
BAB II
PEMBAHASAN
1. HUBUNGAN FILSAFAT DAN SAINS
a. Apa filsafat itu?
Ada banyak
hal untuk dipikirkan terus-menerus dan filsafat dalam situasi seperti ini sangat didefinisikan sebagai seni berfikir terus-menerus
tentang segala hal. Atau mungkin filsafat ini bisa diartikan juga kebiasaan
untuk mencoba berfikir segala sesuatu sampai keakar-akarnya.
Filsafat
mengakibatkan berpikir secara logis tentang (the subject in hand) berbagai
persoalan pokok yang dikuasai, baik secara sistematis maupun secara terus
menerus kita harus
mendefinisikannya secara hati-hati istilah-istilah yang telah digunakan atau
selama ini kita gunakan sendiri seraya menguji makna dan implikasi dari
istilah-istilah tersebut.
Filsafat
juga merupakan kebebasan berfikir manusia terhadap segala sesuatu tanpa batas
dengan mengacu pada hukum keraguan atas segala hal. Segala hal dilihat dari berbagai sudut melalui
kontemplasi pemikiran yang sistematis logis dan radikal.
b. Apa sains itu?
Kata
science berasal dari kata latin yang digunakan untuk merujuk pada konsep
pengetahuan, kata ini diturunkan dari kata, scio, scire, science adalah
pengetahuan. Ada beberapa jenis pengetahuan yang masing-masing berbeda.
Pengetahuan ilmiah yang kita maksudkan adalah pasti, eksak, seksama dan
terorganisir secara lengkap. Pengetahuan semacam ini disebut juga dengan
pengetahuan yang sunguguh-sungguh nyata (real knowledge) dan tentu saja
terorganisir dengan baik.
Sains adalah sejenis penjelasan tentang suatu hal yang
mengungkap berbagai kondisi (sebab-musabab) yang terjadi didalamnya. Sains juga
merupakan sejenis penjelasan tentang suatu hal yang mengungkapkan contoh suatu
hukum atau keseragaman umum. Hal ini juga msih benar, seandainya kita
mengatakan bahwa usaha sungguh-sungguh sains bukan penjelasan terakhir tentang
berbagai hal, tetapi sains hanya menganalisis dan mengklarifikasikan
hukum-hukum tersebut dan menentukan berbagai kondisi yang terjadi, kemudian
merumuskan atau memformulasikan cara-cara mereka bertingkah laku.
c. Tujuan Filsafat dan Sains
Pada
akhirnya kita memang melihat adanya sebuah hubungan antara filsafat dengan
sains. Mereka memiliki spirit dan tujuan yang sama yaitu jujur dan mencari
kebenaran. Dalam pencarian kebenaran ini sais menentuka dalam dirinya sendiri
tugas khas tertentu dan tugas ini memerlukan batas-batas tertentu. Tetapi
penyelidikan ean pikiran manusia yang selalu inig tahu, melukai batas-batas ini
dan menuntut perembesan terhedap wilayah yang berada di balik bidang sains,
dengan demikian lalu filsafat muncul.
d. Perbedaan antara Filsafat
dan Sains
Henderso
berpendapat tentang perbedan antara
filsafat dan ilmu pengetahuan atau sains, seperti di bawah ini:
A. ILMU PENGETAHUAN
· Sebenarnya adalah anak dari fisafat
·
Analisis, menguji semua fenomena dengan teliti
·
Terkonsentrasi dengan hal yang
fakta
·
Dimulai dengan asumsi
B. FILSAFAT
1. Ibu dari pengetahuan
2. Synoptic, views the world and even the universe
3. Concerned not only with things as they are but also
with the way they ought to be human desires and human values
4. Menguji dan menanyakan asumsi
5. Menggunakan semua penemuan berdasarkan ilmu
Apabila permasalahan diatas merupakan perumusan
permasalahan yang tepat dan benar dan baik, maka mana yang lebih penting,
induknya atau kan anaknya, yang dulu lebih penting dari yang kemudian, sebab
lebih penting dari akibatnya, beberapa pertanyaan permasalahan yang tidak mudah
di jawab, atau pertayaan yang dijawabnya masih sangat terbuka sekali, maka kita
menjelaskan bahwa sesungguhnya kedudukan filsafat sains dalam sistematika
filsafat lebih dekat kepada tema besar filsafat yang kedua yaitu epistemology. Bahkan keduanya saling terkait dan tidak dapat
dipisahkan begitu saja. Hanyan saja untuk memudahkan pengindetifiksian, kajian
epistemologi lebih dimaknai dan ditujukan sebagai pengkajian teoritis tentang
pengetahuan sebelum pengetahuan itu sendiri berkembang sebagai sains pada abad
ke-17 atau setidaknya kajian tersebut barada diluar sains, berdasarkan peredaan
metode objek yang dikaji tentunya.
Perkembangan sains ilmiah dan pencapaian spektakulernya di era modern, menjadikannya begitu dipuja dan diyakini mampu mengatasi
berbagai persoalan. Manusia modern telah menjadikannya sebagai basis cara pandang
(world view) dan tafsiran atas realitas. Metode dan nilai praktisnya seperti
telah menggeser posisi filsafat sebagai sandaran manusia untuk mengenal
realitas. Walaupun faktanya, sains tidak terlepas dan selalu butuh pada
hasil-hasil kerja filsafat, namun askelerasi perkembangan dan pencapaiannya
demikian praktis dan cepat.
Berbeda dengan sains, filsafat begitu sukar untuk menjadi konsumsi
umum, bahkan dikalangan elit intelektual abad ini. Disamping berbagai kesulitan dan ketidakpraktisannya dalam menjelaskan segala sesuatu, ia juga
dirasakan tidak berhubugan langsung dengan kehidupan praktis. Kondisi ini
sangat dipengaruhi oleh paradigma sains yang menguasai masyarakat modern.
Manusia terus diarahkan untuk fokus dan bahkan memuja sesuatu yang bersifat
praktis dan positifistik.
Sains, ketika secara ontologis disetarakan dengan pengetahuan dalam
artian umumnya, maka ia mendudukkan posisinya secara konfrontatif dengan
filsafat. Karena filsafat meliputi berbagai aspek eksistensi, baik dari sisi
materi maupun nonmateri. Ia juga hanya bersandar pada bukti-bukti dan
argumentasi rasional. Dari perbedaan ini, tidak ada ruang bagi sains untuk
menerima filsafat dalam status ontologis pengetahuan. Ketegangan ini
menciptakan dikotomi yang ekstrim dan berakibat pada saling menumbangkan.
Masing-masing darinya merebut posisi untuk diakui sebagai pengetahuan yang
otoritatif dalam menggambarkan, berhubungan, dan memperlakukan realitas.
Tinjauan yang lebih adil, hubungan filsafat dan sains tidak mesti
konfrontatif. Karena keduanya memiliki kontribusi yang besar dalam membangun
peradaban manusia.pada hakikatnya, hubungan sains dan filsafat adalah sejulur
dan sinergis. Sains selalu butuh pendasaran dan penegakan azasnya dari
filsafat, sedangkan filsafat sendiri juga dipaksa untuk memperluas kajian
berdasarkan kebutuhan dari berbagai problema baru yang dihadapi sains. Bagi
belahan dunia yang sedang meretas aspek pengetahuan dan mendorong peradaban
yang lebih manusiawi, selayaknya memperhatikan hubungan terakhir tersebut
sebagai jalan bagi khasanah intelektual yang lebih utuh.
Filsafat meliputi seluruh sains rasional, yaitu berbagai sandaran
bukti dan argumentasinya digali dari prinsip-prinsip rasional. Selama ditinjau
dari segi rasionalitas – dengan proposisi-proposisi universal berporos tertentu
– maka suatu ilmu beralih subjeknya pada perbincangan filosofis. Prinsip-prinsip
rasional yang dimaksudkan adalah sandaran-sandaran niscaya bagi akal untuk
membangun setiap premis dan penarikan kesimpulan.
Penggunaaan metode penalaran yang deduktif (silogistik)
sangat khas bagi filsafat, dan ini sering diidentifikasi sebagai perbedaan
mendasar dengan sains yang induktif. Secara sederhana dapat diterima, namun
pada hakikatnya induksi sains dalam berbagai seginya ditautkan pada deduksi
dalam penetapannya. Inilah yang disebut deduksi tersembunyi dalam induksi.
Ketika seorang ilmuan hendak menentukan sample-sample yang digunakannya dalam
penelitian, maka disadari atau tidak, ia bersandar pada hukum universal bahwa
setiap objek yang diteliti mesti sesuai dengan tujuan penelitian itu sendiri
2.WATAK AGAMA
a.
Pengertian
Agama
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Agama adalah sistem yang mengatur tata keimanan
(kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah
yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya. Kata
"agama" berasal dari bahasa Sanskerta, āgama yang
berarti "tradisi". Kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi
yang berasal dari bahasa Latinreligio dan berakar pada kata kerjare-ligare yang berarti "mengikat kembali". Maksudnya dengan
berreligi, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan.
Menurut filologMax Müller, akar
kata bahasa Inggris "religion", yang dalam bahasa Latin religio,
awalnya digunakan untuk yang berarti hanya "takut akan Tuhan atau
dewa-dewa, merenungkan hati-hati tentang hal-hal ilahi, kesalehan" (
kemudian selanjutnya Cicero
menurunkan menjadi berarti " ketekunan " ).[11][12] Max
Müller menandai banyak budaya lain di seluruh dunia, termasuk Mesir, Persia,
dan India, sebagai bagian yang memiliki struktur kekuasaan yang sama pada saat
ini dalam sejarah. Apa yang disebut agama kuno hari ini, mereka akan hanya
disebut sebagai "hukum".[13]
Agama ialah suatu tata
kepercayaan atas adanya Tuhan di luarmanusia,
serta suatu tata kaidah yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia
dengan manusia dan hubungan manusia dengan alam yang lain agar tidak kacau.
Pengertian
agama menunjuk kepada jalan atau cara yang ditempuh untuk mencari rahmat dan
kasih Tuhan. Dalam agama itu ada sesuatu yang dianggap berkuasa, yaitu Tuhan,
zat yang memiliki segala yang ada, yang berkuasa, yang mengatur seluruh alam
beserta isinya. Asal dari segala sesuatu. Pengasal yang tidak berasal.
Penggerak yang tidak digerakkan.
Agama bisa dibedakan antara agama
wahyu dan agama bukan wahyu. Agama wahyu biasanya berpijak pada keesaan Tuhan,
ada nabi yang bertugas menyampaikan ajaran kepada manusia dan ada kitab suci
yang dijadikan rujukan dan tuntunan tentang baik dan buruk. Sedangkan pada
agama yang bukan wahyu tidak membicarakan tentang keesaan Tuhan, dan tidak ada
nabi.
b.
Dasar Agama
Agama adalah sebuah
koleksi terorganisir dari kepercayaan, sistem budaya, dan pandangan dunia yang
menghubungkan manusia dengan tatanan/perintah dari kehidupan.Banyak agama
memiliki narasi, simbol, dan sejarah suci
yang dimaksudkan untuk menjelaskan makna hidup dan / atau menjelaskan asal usul
kehidupan atau alam semesta. Dari keyakinan mereka tentang kosmos dan sifat manusia, orang memperoleh
moralitas, etika, hukum agama atau gaya hidup yang disukai. Menurut beberapa perkiraan,
ada sekitar 4.200 agama di dunia.
Banyak agama yang mungkin telah
mengorganisir perilaku, kependetaan, definisi tentang apa yang merupakan
kepatuhan atau keanggotaan, tempat-tempat suci, dan kitab suci. Praktek agama
juga dapat mencakup ritual, khotbah, peringatan atau pemujaan tuhan, dewa atau
dewi, pengorbanan, festival, pesta, trance, inisiasi, jasa penguburan, layanan
pernikahan, meditasi, doa, musik, seni, tari, masyarakat layanan atau aspek
lain dari budaya manusia. Agama juga mungkin mengandung mitologi.
Agama sebagai
seperangkat aturan dan peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan dunia
gaib, khususnya dengan Tuhannya, mengatur hubungan manusia dengan manusia
lainnya, dan mengatur hubungan manusia dengan lingkungannya. Secara khusus,
agama didefinisikan sebagai suatu sistem keyakinan yang dianut dan
tindakan-tindakan yang diwujudkan oleh suatu kelompok atau masyarakat dalam
menginterpretasi dan memberi tanggapan terhadap apa yang dirasakan dan diyakini
sebagai yang gaib dan suci. Bagi para penganutnya, agama berisikan ajaran-ajaran
mengenai kebenaran tertinggi dan mutlak tentang eksistensi manusia dan
petunjuk-petunjuk untuk hidup selamat di dunia dan di akhirat. Karena itu pula
agama dapat menjadi bagian dan inti dari sistem-sistem nilai yang ada dalam
kebudayaan dari masyarakat yang bersangkutan, dan menjadi pendorong serta
pengontrol bagi tindakan-tindakan para anggota masyarakat tersebut untuk tetap
berjalan sesuai dengan nilai-nilai kebudayaan dan ajaran-ajaran agamanya.
c. Unsur-unsur
Agama dan Fungsi Agama
1. Unsur-unsur Agama
- Kepercayaan agama, yakni suatu prinsip
yang dianggap benar tanpa ada keraguan lagi
- Simbol agama, yakni identitas agama yang
dianut umatnya.
- Praktik keagamaan, yakni hubungan vertikal
antara manusia dan Tuhan-Nya, dan hubungan horizontal atau hubungan
antarumat beragama sesuai dengan ajaran agama
- Pengalaman keagamaan, yakni berbagai
bentuk pengalaman keagamaan yang dialami oleh penganut-penganut secara
pribadi.
- Umat beragama, yakni penganut
masing-masing agama
2.
Fungsi Agama
- Sumber pedoman hidup bagi individu maupun
kelompok
- Mengatur tata cara hubungan manusia dengan
Tuhan dan manusia dengan manusia.
- Merupakan tuntutan tentang prinsip benar
atau salah
- Pedoman mengungkapkan rasa kebersamaan
- Pedoman perasaan keyakinan
- Pedoman keberadaan
- Pengungkapan estetika (keindahan)
- Pedoman rekreasi dan hiburan
- Memberikan identitas kepada manusia
sebagai umat dari suatu agama.
3. MASALAH AGAMA
Disamping
menguraikan alternatif-alternatif dalam masalah hubungan tuhan dan manusia
filsafat agama juga mengungkapkan problem-problem yang cukup dilematis, seperti
hubungan kehendak mutlak Tuhan dengan kebebasan manusia dan Tuhan personal
dengan Tuhan yang imporsenal. Masalah seperti ini telah dibahas oleh para
pemikir agama dari berbagai sudut pandang. Namun penyelesaian yang maksimal dan
tuntas tentang masal tersebut belum tercapai dan memuaskan semua pihak. Karena
itu penyelesaian dan kepuasan para penganut agama sangat tergntung pada eluasan
pengetahuannya dan keinginan untuk mencari yang lebih memuaskan. Minimal agar penganut
agama itu tidak statis, tetapi selalu kreatif dan mengadakan dialog untuk
mencari jalan keluar yang terbaik.
Berdasarkan
penjelasan di atas, penulis dapat mengambil suatu rumusan yang menjadi pokok
permasalahan dalam makalah ini, yakni tentang ”hubungan filsafat dan
agama” dari rumusan masalah di atas, kemudian dapat dituangkan lagi ke dalam
beberapa batasan masalah sebagai berikut:
1. Bentuk
Keraguan dan Penolakan Terhadap Agama
Beberapa
bentuk keraguan pada Tuhan dan penolakan terhadapa agama antara lain:
a.Empirisme
David Hume
adalah toko filsafat Barat yang mengembangkan filsafat empirisme Lokcke dan
Barkley secara konsekuen. Problematika epistemologi ia tulis dalam buku An
Enquiry Concerning Human Understanding dan A Treatise of Human Nature.
Menurut David Hume, manusia tidak membawa pengetahuan bawaan dalam hidupnya.
Sumber pengetahuan adalah pengamatan, pengamatan memberi dua hai yaiut
kesan-kesan (imperessons) dan pengertian-pengertian atau idea-idea (ideas)
yang dimaksud dengan kesan-kesan adalah pengamatan langsung yang diterima dari
pengalaman, baik pengalaman lahiriah maupun batiniah, yang menampakkan diri
dengan jelas, hidup dan kuat seperti merasakan yang terbakar. Sedangkan ide
adalah gambaran tentang pengamatan yang redup, samar-samar, yang dihasilkan
dengan merenungkan kemabali atau terefleksikan dala kesadaran kesan-kesan yang
diterima dari pengalaman.
Pernyataan
Hume tentang teori kuasalitas ini sangat berpengaruh bagi perkembangan
pemikiran filsafat dan keagamaan di Barat. Dengan penolakan terhadap teori
kuasalitas, Hume menghujat argumen ontologis dan kosmologis tentang keberadaan
Tuhan dan sekaligus membatasi kemampuan akal. Munculnya positivisme yang
dipelopori oleh August Comte diwarnai oleh ide Hume, bahkan materialisme bisa
dikatakan sebagai puncak dari empirisme. Para filosof sebelum Hume percaya
bahwa alam adalah akibat dan Tuhan adalah sebab alam. Menurut kategori logika
keberadaan sebab lebih wajib dibandingkan keberadaan akibat dan sebab lebih
dahulu ketimbang akibat. Karena itu Tuhan sebagai sebab wajib ada dan mendahuli
alam, sedangkan alam sebagai akibat mungkin adanya dan setelah tuhan. Argumen
ini yang dipakai oleh para filosof dimasa Hume.
Menurut
Hume, ketika kita percaya kepada tuhan sebagai pengatur alam ini, kita
berhdapan dengan dilema. Ia berkomenar bahwa tidak ada bukti yang dapa dipakai
untuk membuktikan bahwa Allah itu ada dan bahwa Ia menyelenggarakan dunia. Juda
tidak ada bukti bahwa Allah tidak mati. Dalam praktek orang-orang yang beragama
selalu mengikuti “kepercayaan”, yang dianggap pasti, sedangkan akal tidak bisa
membuktikanya. Menurutnya banyak sekali keyainan agama yang merupakan hasil
khayalan, tidak berlaku umum dan tidak berguna bagi hidup. Akan tetapi Agama
berasal dari penghargaan dan ketakutan manusia terhadap tujuan hidupnya itulah
yang menyebabkan manusia mengangkat berbagai dewa untuk di sembah. Mukjizat
adalah ajaran agama yang juga diserang oleh Hume, dia memberikan lima alasan
untuk menolak mukjizat.
Pertama
Hume cenderung mempertentangkan dua bentuk-bentuk teisme yang monopolar dan
mengabaikan sintesis dipolar. Dalam hal ini ada dua pola yaitu mistisme dan
antropomorpisme. Dalam mitisme Tuhan berada dalam konsepsi yang negatif dan
sempurna, sedangkan antropomorpisme Tuhan berada dalam konsepsi positif tetapi
tidak sempurna. Tuhan adalah sepurna, abadi, dan wajib ada. Dilain pihak dunia
tidak sempurna hanya dapat dijelaskan lewat pendekatan dipolar, bukan monopolar
sebagaimana yang dikemukakan Hume. Kesempurnaan Tuhan dapat digambarkan dari
ketidak sempurnaan dunia. Seandainya dunia tidak ada atau ada, tetapi sempurnah
maka kesempurnaan Tuhan akan sulit diidentifikasi. Kritikan Hume hanya terbatas
pada aspek empiris saja, yakni Tuhan yang tidak terbatas dalam dunia yang
terbatas. Dia tidak melihat lebih jauh tentang dunia yang terbatas tidak
mungkin menciptakan dirinya sendiri.
Kedua Hume
mengabaikan peranan akal dalam menangkap realitas. Padahal akal mampu
menghubungkan kejadian-kejadian yang lampau dengan kejadian yang sekarang dan
bahkan meramalkan sesuatu yang akan datang. Akal juga mampu memberikan ide-ide
umum tetang fakta-fakta yang beragam. Daya akal yang semakin kuat tidak
membutuhkan fakta dan data lagi. Akal yang demikian mampu mencapai wujud yang
tidak bermateri, yaitu Tuhan. Jadi Tuhan secara apriori mampu ijelaskan oleh
kekuatan akal. Dengan demikian kesimpulan Hume tentang kemampuan akal terkesan
sangat dangkal dan tergesa-gesa.
Ketiga Hume
terlalu meredusir semua realitas dalam kajian empiris, sehingga dia terjerumus
pada determinisme empiris. Skeptisisme Hume terhadap agama juga berdasarkan
atas determinismenya yang kaku ini. Alam empiris terwujud dari dua hal yang
saling bergantian yaitu kebaikan dan kejahatan. Kalau Tuhan baik, demkian Hume,
kenapa Dia tidak menghilangkan kejahatan? Untuk masalah ini dapat dijawab bahwa
kejahatan adalah bagian dari dunia yang tidak sempurnah.
b.Positivisme
Positivisme
adalah kelanjutan dari empirisme, jika empirisme menitiktekankan pada
pengalaman saja dan merendahkam fungsi akal, positivisme menggabungkan
keduannya. Bagi posotivisme pengalaman perlu untuk mengumpulakan data sebanayak
mungkin agar akal mendapat hukum yang bersifat unversal. Positivisme kata
asalnya adalah “positif” berarti yang diketahui, yang faktual, dan yang positif.
Segala uraian yang diluar fakta atau kenyataan dikesampingkan. Oleh karena itu
metafisik ditolak. Apa yang diketahui secara positif adalah segala yang tampak
dan yang dapat diukur. Dengan demikian positivisme membatasi filsafat dan ilmu
pada bidang gejala-gejala saja. Positivisme memandang agama sebagai gejala
peradaban manusia yang primitif. Positivis membatasi dunia pada hal-hal yang
bisa dilihat, yang bisa diukur, dianalisis, dan bisa dibuktikan kebenarannya.
Karena agama ─ maksudnya Tuhan ─ tidak bisa dilihat, diukur, dianalisis, dan
dibuktikan, maka Agama tidak mempunyai arti.
Alfred
Yules Ayer, sala seorang filosof yang penganut positivisme berkata, “Argumen
tentang pengalaman keagamaan adalah tidak benar. Bahwa banyak orang mempunyai
pengalaman keagamaan adalah suatu yang menarik perhatian dari sudut psikologi,
tetapi tidak berarti memang ada pengetahuan keagamaan yang objektif.
Orang yang percaya kepada Allah dan orang yang memegang paham-paham moral
mungkin percaya bahwa pengalamanya merupakan pengalaman yang berdasarkan pada
pengetahuan.
c. Materialisme
Bibit
materialisme bisa ditelusuri dari ajaran demokritos tentang atom. Sebagaimana
para filosof alam zaman Yunani kuno, mengatakan bahwa alam terdiri dari
atom-atom yang tidak terbatas jumlahnya. Tujuan utama dari atom bukan untuk
menjelaskan kenapa alam muncul, tetapi bagaimana alam bisa dimengerti dan
diuraikan. Karena itu atomis mengatakan bahwa atom bergerak dalam ruang yang
kosong. Apabila tersusun maka terjadilah benda apabila berpisah maka hancurlah
benda itu. Wujud yang hakiki menurut pandangan atomis adalah alam materi.
Feuerbach mengkritik agama kristen lewat pendekatan psikologis dalam karyanya Das
Wesen des Christentums (hakikat agama kristen) menurutnya agama muncul dri
hakikat manusia. Karena itu Ia berpendapat tugas filsafat adalah mengembalikan
bagian terbesar dari diri manusia yang telah diasingkan oleh agama. Selanjutnya
filsafat harus membuktikan bahwa perbedaan antara hal yang mansuiawi dan yang
kudus adalah bersifat khayal.
Feuerbach
mengakui bahwa agama merupakan sala satu dari kategori-kategori fundamental
jiwa manusia, namun kekuasaan Tuhan atau Dewa tidak berlangsung lama. Dia
mengatakan bahwa bila kekudusan alam merupakan dasar dari agama, maka kekudusan
manusia harus merupakan tujuan akhir. Titik tolak yang penting dalam sejarah adalah
bila mansuia telah menjadi dasar satu-satunya Tuhan bagi mansuia adalah diriny
sendiri. Sedangkan menurut Karl Marx agama adalah hasil dari proyeksi pikiran
dan keinginan manusia. Gagasan tentang agama adalah hasil suau bentuk
masyarakat tertentu. Menurutnya agama bagian dari kelas buruh yang menderita,
mereka tidak mampu meawan struktur kelas yang begitu kuat hingga mereka mencari
kekuatan ‘supernatural’ untuk menolong mereka. Dalam tuisannya ‘dasar dari
kritik antireligius adalah bahwa manusiala yang menciptakan agama dan bukan
agama yang menciptakan manusia.
d.Freudianisme
Freudianisme
digunakan dalam tulisan ini untuk menunjukkan pemikiran Sigmund Freud yang
berpengaruh pada agama, terutama tujuannnya dari aspek psikologis. Menurutnya
kepercayaan keagamaan yang objektif itu tidak ada dasarnya sebab kepercayaan
tersebut dapat diterangkan dari segi psikologi. Hal-hal merupakan dogma dalam
agama bukan hasil pengalaman atau pemikiran , tetapi hasil ilusi yaiu realisasi
dari kemauan manusia yang tertua, terkuat, dan paling mendorong. Menurutnya
mansuia pada awalnya merasa aman dikandung ibunya, setelah dia lahir mulailah
merasa kenyamanan tadi hilang hingga dia mulai terasing dan terpisah dari
dunianya. Dari sinilah muncul keinginan dalam dirinya untuk hidup nyaman
dan ketidak berdayaan untuk kembali pada dunia yang nyaman tersebut
timbullah kebimbangan. Kebimbangan ini mencari tempat yang aman, yaitu Agama.
Agamala yang memberi alternatif untuk itu. Artinya orang yang beragama sama
dengan orang yang putus asa. Jadi Tuhan muncul karena kekecewaan dan ketidak
berdayaan hal ini menurut Freud adalah gejala sakit jiwa. Dari penjelasan-Nya
ada beberapa yang perlu dikoreksi pertama Dia menganalogikan Tuhan sebagai
pencipta alam dengan bapak dan ibu sebagai pencipta seorang anak, kedua
wawasannya tentang Tuhan hanya terbatas pada agama kristen, ketiga kesalahan
jika dia mengira Tuhan zat yang diinginkan manusia adanya, terakhir dia
mengkritik orang yang baragama karena agama menyebabkan gangguan jiwa.
2. Akar
Keraguan Terhadap Agama
a. Naturalisme
Salah satu
problem yang dihadapi oleh manusia modern terutama para ilmuwan adalah apakah
agama bisa sejalan dengan teori-teori ilmiah? Sebab ilmu menekankan
pembahasannya pada alam fisik sedangkan agama membahas supernatur. Dasar
intelektual ilmu sudah dirintis sejak zaman filsafat Yunani, mengatakan bahwa
alam berjalan menurut hukum-hukum yang tetap dan sistem yang sama. Ilmu
mempunyai konsep yang sama tentang alam, agamapun mempunyai doktrin-doktrin
yang mutlak tentang supernatur. Mukjizat dan do’a adalah ajaran agama yang tidak
boleh dibantah lagi. Ibn Rusyd, filosof muslim dari Andalusia berpendapat bahwa
untuk menghilangkan keraguan kaum naturalis terhadap agama, maka pengertian
mukjizat perlu diperluas. Selama ini Ibn Rusyd hanya terfokus pada hal-hal yang
supernatural.
b.
humanisme dan eksistensialisme
Istilah humanisme berasal dari humanitas (pendidikan
manusia). Dalam bahasa Yunani disebut paidea. Pada pertengahan abad ke14
adalah gerakan filsafat yang timbul di Italia dan kemudia berkembang diseluruh
Eropa. Humanisme menegaskan bahwa manusia adalah ukuran segala sesuatu,
kebesaran manusia harus dihidupkan kembali yang selama ini terkubur pada abad
tengah. Karenanya warisan filsafat klasik harus dihidupkan kebebasan manusia
adalah sala satu pokok humanisme. Pico sala satu toko humanisme berkata
“manusia dianugrahi kebebasan memilih ileh Tuhan dan menjadikannya pusat
perhatian dunia. Sedangkan Valla menolk superioritas agama atas manusia,
menurutnya manusia berhak menjadi dirinya dan sekaligus menentukan nasibnya
tujuan manusia adalah bersenang-senang.
Humanisme
pada awalnya tidak anti agama, tetapi hanya ingin peranan institusi gereja dan
kerajaan yang begitu besar hingga manusia sebagai mahkluk Tuhan kehilangan
kebebasannya. Humanisme pada abad 19-20 bertujuan meningkatkan perkembangan
yang harmonis dari sifat-sifat dan kecakapan alamiah manusia, mereka
berpendapat tanpa wahyupun manusia mampu berkarya dengan baik dan sempurnah.
Kemudian beberapa abad kemudian baru muncul gerakan humanisme yang melepaskan
segala yang berkaitan dengan Tuhan dan Akhirat dan hanya menerima dunia apa
adanya.
Menurut
tokoh eksistensialisme J.P. Sartre abad 20, mengatakan dia kehilangan
kepercayaan ketika berumur 11 tahun. Tuhan tidak merupakan hal yang sangat
jelas bagi dia, sehingga dia menganggap sama sekali tidak ada gunanya untuk
menyelidiki dan membuktikan keslahan argumen dan eksistensi Tuhan. Dia
menganggap Tuhan hanya merupakan proyeksi dari jiwa manusia, menurutnya
seandainya Tuhan ada manusia sma sekali tidak berarti, seandainya manuisa ada
sebagai pelindung, paling sempurna dari tatanan nilai-nilai moral dan raional
yang mapan, Tuhan harus ditolak atas nama kemerdekaan alasanya manusa tidak
akan menjadi bebas bila ada satu tatanan yang absolut dan universal.
c. Problem Kejahatan
Adanya
kejahatan dijagad raya merupakan problem yang tidak henti-hentinta
diperdebatkan, terutama oleh agamawan dan ilmuwan. Problem yang mendasar
terutama bagi teisme adalah kenapa kejatan itu ada, padahal Tuhan pencipta,
maha kuasa dan sumber kebaikan. Timbul dalam suatu pertentangan dalam diri
Tuhan yaitu Tuhan sebagai sumber kebaikan sekaligus sumber kejahatan. Kenyataan
tersebut tidak benar-benar logika. Salah satu susunan argumen ateisme menolak
teisme adalah sebagai berikut:
a)
Jika Tuhan maha baik, tentu Dia akan membasmi kejahatan.
b)
Jika Tuhan maha kuasa, Dia mampu menghancurkan kejahatan
c)
Tetapi kejahatan belum terhapus
d)
Karena itu, Tuhan tidak ada
Para ahli
agama dan filosof berusaha mencari jawaban yang dapat memuaskan dan
menyelesaikan problematika kejhatan, ada beberapa alternatif yang dikemukakan
oleh agamawan dan fiofof tentang kejahatan:
1) Kekuasaan
mutlak Tuhan harus bersyrat. Tuhan tidak berkuasa menciptakan sesuatu yang
bertentangan dengan dirinya
2) Kejahatan adalah
bagian yang tidak bisa terlepas dari kebaikan yang tinggi
3) Setiap kejahatan
adalah kutukan bagi manusia yang berdosa
4) Keyakinan tentang
segala sesuatu yang terjadi tidak lepas dari hikmah Tuhan, karena keterbatasan
manusia tidak mampu mengetahui semua hikmah yang ada
c.Pluralitas Agama
Pluralitas
agama merupakan problem yang cukup rumit. Agama disatu sisi menekankan
kebenaran yang absolut, tetapi disisi lain jumlah agama itu banyak. Setiap
agama mengaku ajarannyalah yang paling benar, karena itu timbul tanda tanya mana
agama yang paling benar dari sekian agama yang ada? Apakah semua agama itu
benar, atau semuanya tidak benar. Kalau ada agama yang paling benar dari sekian
agama, maka bagaimana mengetahui agama yang paling benar tersebut? Pernyataan
semacam ini sering diajukan tidak saja dari kaum tesis tapi kaum intelektual
yang percaya kepada Tuhan.Al-Razi, seorang fiosof yang percaya kepada Tuhan
menolak agama-agama yang ada karena setiap agama mempropagandakan kebenarannya
sendiri dan para penganut agama merekalah yang paling benar. Menurutnya akal
mampu mengetahui yang baik dan yang buruk tanpa prtolongan wahyu dan nabi.
Dengan akal seseorang mampu mengetahui Tuhan. Menurutnya tak ada keistmewaan
seseorang untuk mendapat wahyu sebab semua manusia dilahirkan sama, perbedaan
kemudian bukan karena pembawaan, tetapi larena pendidikan dan kemampuannya.
5
HUBUNGAN ANTARA FILSAFAT DAN AGAMA
a.
Dasar Asumsi
Ada beberapa asumsi berkaitan dengan
jalinan filsafat dengan agama. Asumsi itu didasarkan pada anggapan manusia
sebagai makhluk budaya.
·
Asumsi pertama, sebagai makhluk budaya manusia mampu berspekulasi dan
berteori filsafat yang akan menentukan kebudayaannya, bahkan sampai sadar dan
jujur mengakui kenyataan Tuhan dan ajaran agama.
·
Asumsi kedua dinyatakan oleh Dewey dengan pikiran meliorisme-nya. Maksud
pemikirannya adalah: dunia ini diciptakan oleh Tuhan sebagai suatu potensi yang
dapat diperbaiki, diperindah dan diperkaya, sehingga hidup dan penghidupan ini
bisa lebih ditingkatkan nilai harganya untuk dihidupi dan dinikmati.
b. Persamaan Filsafat dan Agama
Baik ilmu, filsafat, maupun agama
bertujuan sekurang-kurangnya sama-sama mencari kebenaran. Ilmu pengetahuan
dengan metodenya sendiri, mencari kebenaran tentang alam, termasuk tentang
manusia. Filsafat dengan wataknya sendiri pula, menghampiri kebenaran, baik
tentang alam maupun tentang manusia ataupun tentang Tuhan, yang belum atau
tidak dapat dijawab oleh ilmu, karena di luar atau di atas jangkauannya. Agama
dengan karakteristiknya sendiri pula memberikan jawaban atas segala persoalan
mendasar yang dipertanyakan manusia, baik tentang alam, tentang manusia maupun
tentang Tuhan.
c. Perbedaan Filsafat dan Agama
Baik ilmu maupun filsafat, keduanya
merupakan hasil dari akal budi atau rasio manusia. Sedangkan agama bersumberkan
dari wahyu Allah.Ilmu pengetahuan mencari kebenaran dengan jalan penyelidikan
(riset), pengalaman (empiris), dan percobaan (eksperimen) sebagai batu ujian.
Filsafat menghampiri kebenaran dengan cara menulangkan (mengembarakan atau
mengelanakan) akal budi secara radikal (mengakar), integral (menyeluruh) dan
universal (alami atau mengalam) tidak merasa terikat oleh ikatan apapun,
kecuali oleh ikatan tangannya sendiri bernama logika. Filsafat itu ialah
rekaman petualangan jiwa dalam kosmos.Manusia mencari dan menemukan kebenaran
dengan dan dalam agama dengan jalan mempertanyakan (mencari jawaban tentang)
pelbagai masalah asasi dari atau kepada kitab suci, kodifikasi firman ilahi
untuk manusia di atas planet bumi ini.
Kebenaran filsafat adalah kebenaran
spekulatif (dugaan yang tak dapat dibuktikan secara empiris, riset, dan
eksperimen). Baik kebenaran ilmu maupun kebenaran filsafat, keduanya nisbi
(relatif). Sedangkankebenaran agama bersifat mutlak (absolut), karena agama
adalah wahyu yang diturunkan oleh yang Maha Benar, Maha Mutlak, dan Maha
Sempurna. Baik ilmu maupun filsafat, keduanya berangkat dari sikap sangsi atau
tidak percaya. Sedangkan agama mulai dengan sikap percaya atau beriman.
BAB III
PENUTUP
1.
Kesimpulan
Secara ringkas bisa dijelaskan
hubungan agama dengan filsafat sebagai berikut:
1) agama adalah unsur mutlak dan sumber
kebudayaan, sedangkan filsafat adalah salah satu unsur kebudayaan.
2) agama adalah ciptanya Tuhan,
sedangkan filsafat hasil spekulasi manusia.
3) agama adalah sumber-sumber asumsi
dari filsafat dan ilmu pengetahuan (science), dengan filsafat menguji
asumsi-asumsi science.
4) agama mendahulukan kepercayaan
daripada pemikiran, sedangkan filsafat mempercayakan sepenuhnya kekuatan daya
pemikiran.
5) agama mempercayai akan adanya
kebenaran dan kenyataan dogma-dogma agama, sedangkan filsafat tidak mengakui
dogma-dogma sebagai kenyataan tentang kebenaran.
Dengan memperhatikan spesifikasi dan sifat-sifat di
atas, tampak jelas bahwa peran agama terhadap filsafat ialah meluruskan
filsafat yang spekulatif kepada kebenaran mutlak yang ada pada agama. Sedangkan
peran filsafat terhadap agama ialah membantu keyakinan manusia terhadap
kebenaran mutlak itu dengan pemikiran yang kritis dan logis.
2.
Saran
Selain mempelajari sejarah perkembangan
filsafat, tak kalah pentingnya jika kita mengetahui hubungan filsafat dengan
agama agar kita mengetahui manfaat dan kegunaan filsafat itu sendiri dalam
agama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar